JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Aroma khas kue kering yang keluar dari toples-toples kaca mulai tercium sejak pagi hari.
Di ruang tamu yang telah ditata rapi, suguhan camilan jadul tersusun manis di atas meja, menanti sanak saudara yang datang bersilaturahmi.
Lebaran bukan sekadar soal baju baru atau hidangan utama, tetapi juga tentang cita rasa klasik yang menghadirkan nostalgia di setiap gigitannya.
Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi menyajikan camilan khas saat Hari Raya Idul Fitri sudah berlangsung turun-temurun.
Kue-kue seperti nastar, kastengel, putri salju, hingga kue semprit hampir tak pernah absen dari meja tamu. Meski tren kuliner terus berubah, cemilan jadul tetap menjadi primadona.
Siti Aminah (54), warga Kapasari, mengaku selalu membuat kue sendiri menjelang Lebaran. “Kalau bikin sendiri itu rasanya beda. Harumnya saja sudah bikin suasana rumah terasa Lebaran,” ujarnya sambil menyusun toples nastar buatannya.
Menurut pengamat budaya kuliner dari Universitas Airlangga, tradisi menyajikan camilan saat Lebaran memiliki makna sosial yang kuat.
“Camilan bukan sekadar makanan ringan, tetapi simbol keramahan dan keterbukaan tuan rumah dalam menyambut tamu di hari kemenangan,” jelasnya.
Beberapa cemilan klasik bahkan memiliki sejarah panjang di Indonesia. Nastar, misalnya, merupakan hasil akulturasi budaya Belanda yang kemudian disesuaikan dengan bahan lokal seperti selai nanas.
Kastengel yang gurih juga berasal dari pengaruh kuliner Eropa, namun kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran masyarakat Indonesia.
Selain kue kering, camilan tradisional seperti rengginang, opak, dan kue kacang juga masih banyak dijumpai.
Di sejumlah pasar tradisional, penjualan camilan jadul meningkat tajam menjelang Idul Fitri. Pedagang mengaku omzet bisa naik dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Baca Juga: Perkuat Transformasi Digital JKN, FKTP Mojokerto Terima Penghargaan Bintang 3 dari BPJS Kesehatan
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran tren dessert modern dan hampers kekinian, masyarakat tetap merindukan cita rasa yang akrab di lidah.
Aroma mentega yang dipanggang, taburan gula halus yang lembut, hingga rasa manis selai nanas menjadi pengingat masa kecil dan kebersamaan keluarga.
Bagi banyak orang, camilan Lebaran bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita. Ada momen saat anak-anak membantu menata kue ke dalam toples, atau tradisi mencicipi adonan sebelum dipanggang.
Semua itu menjadi bagian dari kenangan yang terus hidup setiap tahun. Lebaran memang identik dengan silaturahmi dan saling memaafkan.
Namun dibalik itu, ada aroma tradisi yang menghangatkan suasana. Camilan jadul menjadi saksi bisu kebersamaan, menghadirkan rasa yang tak lekang oleh waktu di setiap Hari Kemenangan.
CINDY
Editor : Imron Arlado