JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di berbagai sudut kota berubah menjadi lebih ramai dari biasanya.
Jalanan yang sebelumnya lengang mendadak dipenuhi pedagang dan pembeli yang berburu takjil, makanan ringan untuk berbuka puasa.
Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan dan selalu dinantikan setiap tahunnya.
Takjil yang dijajakan pun beragam, mulai dari kolak pisang, es buah, gorengan, hingga aneka kue tradisional.
Warna-warni makanan dan aroma yang menggoda menciptakan suasana khas yang hanya dapat ditemui selama bulan suci.
Berburu takjil bukan sekadar aktivitas membeli makanan, tetapi juga menjadi tradisi sosial yang mempererat kebersamaan.
Banyak warga memanfaatkan waktu menjelang berbuka untuk berjalan-jalan bersama keluarga atau teman sambil memilih makanan favorit.
“Setiap Ramadan, saya selalu menyempatkan diri membeli takjil di dekat rumah. Selain praktis, suasananya juga terasa berbeda, lebih hangat,” kata Dinda (24), warga Surabaya.
Tradisi ini juga menjadi momen bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan kuliner lokal. Berbagai makanan khas daerah sering muncul selama Ramadan, memperkenalkan kembali cita rasa tradisional kepada generasi muda.
Ramadan juga membawa berkah bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Banyak pedagang musiman yang memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilan.
Mereka menjual berbagai jenis takjil di pinggir jalan, pasar Ramadan, maupun bazar khusus.
Slamet (45), seorang pedagang gorengan, mengaku pendapatannya meningkat signifikan selama Ramadan. “Kalau hari biasa, tidak seramai ini. Tapi saat Ramadan, pembeli bisa dua sampai tiga kali lipat,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga dampak ekonomi yang nyata, khususnya bagi pelaku UMKM.
Selain makanan tradisional, kini muncul berbagai inovasi takjil modern yang menarik perhatian generasi muda. Minuman kekinian, dessert unik, hingga makanan dengan tampilan menarik menjadi daya tarik tersendiri.
Meski begitu, takjil klasik seperti kolak, kurma, dan gorengan tetap menjadi favorit. Kehadiran makanan tradisional ini menjaga kesinambungan budaya kuliner Ramadan.
Berburu takjil juga menjadi bagian dari pengalaman Ramadan yang penuh makna. Aktivitas ini menciptakan interaksi antara penjual dan pembeli, memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, tradisi ini mengingatkan pentingnya berbagi. Banyak orang membeli takjil bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, tetangga, atau dibagikan kepada yang membutuhkan.
Ramainya aktivitas berburu takjil setiap Ramadan menunjukkan bahwa tradisi ini masih hidup dan terus berkembang.
Di tengah perubahan zaman, berburu takjil tetap menjadi simbol kebersamaan, keberkahan, dan kegembiraan dalam menyambut waktu berbuka puasa.
CINDY
Editor : Imron Arlado