JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Bulan Ramadan menjadi waktu aktivitas belanja masyarakat Indonesia meningkat tajam, bukan hanya sekadar untuk kebutuhan sahur dan berbuka, tetapi juga untuk persiapan Idul Fitri dan berbagi dengan keluarga.
Di era digital saat ini, muncul dilema baru yaitu lebih baik belanja online dari rumah atau datang langsung ke toko. Tren tersebut menunjukkan belanja online telah meningkat secara signifikan selama Ramadan karena bagi sebagian masyarakat lebih praktis, hemat waktu, dan mudah mendapatkan banyak promo.
Sebagian orang memanfaatkan waktu menjelang berbuka atau bahkan saat sahur untuk berbelanja melalui aplikasi karena lebih fleksibel dengan rutinitas puasa. Produk seperti pakaian Muslim, perlengkapan ibadah, hingga hampers Lebaran. Hal ini terjadi karena pilihan lebih banyak dan harga dapat dibandingkan.
Tetapi, belanja langsung di toko tetap menjadi pilihan penting bagi sebagian orang. Contohnya kebutuhan seperti sayur, buah, daging, dan bahan makanan segar, masyarakat cenderung ingin melihat langsung dan memilih sendiri kualitasnya.
Selain itu, suasana belanja di pasar tradisional, minimarket, atau bazar Ramadan masih menjadi bagian penting dari pengalaman sosial yang khas di bulan suci Ramadan.
Baca Juga: Masjid An Nahdliyah, Sooko, Kabupaten Mojokerto Akulturasi Budaya Islam dan Jawa
Dari berinteraksi dengan penjual, suasana ramai menjelang berbuka, dan tradisi berburu makanan khas Ramadan membuat belanja langsung memiliki nilai lebih yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Karena itulah, pola belanja masyarakat saat ini tidak lagi sepenuhnya online atau offline, melainkan kombinasi keduanya. Sebagian orang mencari informasi dan membandingkan harga secara online, lalu membeli langsung di toko.
Begitupun sebaliknya, sebagian orang juga melihat barang di toko tetapi melakukan pembelian lewat aplikasi karena ada promo. Perubahan ini dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.
Baca Juga: Belanja Online vs Offline: Praktis atau Lebih Puas Datang Langsung?
Dengan kemudahan penggunaan smartphone, dan strategi promosi marketplace yang semakin agresif. Tetapi disisi lain, dari faktor kebiasaan, kepercayaan terhadap kualitas barang, dan nilai tradisi Ramadan tetap membuat toko fisik masih bertahan kuat.
Jadi, perkembangan teknologi seperti layanan pengiriman cepat dan sistem rekomendasi produk akan terus mendorong pertumbuhan belanja secara online.
Namun, belanja langsung diperkirakan akan tetap kuat karena masyarakat masih membutuhkan pengalaman nyata dan interaksi sosial yang sudah menjadi bagian dari budaya Ramadan.
LULUS
Editor : Imron Arlado