Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Awas Ditolak! 5 Kesalahan Fatal Saat Mengajukan KUR BRI yang Jarang Diketahui

Imron Arlado • Selasa, 17 Februari 2026 | 21:14 WIB
Gak Perlu Ribet, Begini Syarat dan Cara Ajukan KUR BRI 2025 Online & Offline!
Gak Perlu Ribet, Begini Syarat dan Cara Ajukan KUR BRI 2025 Online & Offline!

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah ambisi pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2026, Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tetap menjadi oase bagi jutaan pelaku UMKM yang haus akan permodalan.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali pahit. Ribuan berkas pengajuan menumpuk di meja para analis kredit, dan tidak sedikit yang berakhir di tong sampah digital dengan status rejected atau ditolak.

Mengapa pengajuan modal yang terlihat mudah di iklan justru terasa sangat sulit bagi sebagian orang? Penolakan bank bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan adanya celah fatal dalam persiapan calon peminjam.

Berikut 5 kesalahan fatal yang sering dilakukan UMKM saat mengajukan KUR BRI yang dirangkum dari berbagai sumber.

  1. Jebakan "Paylater" dan Pinjaman Online (Pinjol)

Di era digital ini, musuh terbesar pelaku UMKM bukanlah kompetitor bisnis, melainkan jejak digital keuangan mereka sendiri.

Banyak pemohon KUR yang merasa percaya diri karena tidak pernah memiliki tunggakan bank konvensional, namun mereka lupa pada cicilan paylater atau pinjaman online yang nominalnya mungkin hanya ratusan ribu rupiah.

Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK—yang dulu dikenal sebagai BI Checking—kini mencatat segalanya hingga ke akar-akarnya. Seorang analis kredit BRI mengungkapkan bahwa status kolektibilitas (kol) adalah harga mati.

 

 

Banyak UMKM yang ditolak otomatis oleh sistem karena memiliki tunggakan di aplikasi belanja online atau pinjol ilegal yang sudah terintegrasi ke SLIK. Meski bisnis mereka sangat menguntungkan, jika skor kreditnya buruk, bank tidak akan mengambil risiko.

Sebelum melangkah ke kantor BRI, pastikan Anda telah melunasi seluruh kewajiban di platform digital mana pun dan mintalah surat keterangan lunas jika perlu.

 

  1. "Creative Accounting" yang Terlalu Kasar

Keinginan untuk mendapatkan plafon maksimal sering kali mendorong pelaku UMKM melakukan manipulasi data keuangan atau window dressing. Mereka menaikkan angka omzet secara tidak wajar dalam catatan harian atau membuat buku kas dadakan satu minggu sebelum pengajuan.

Perlu diingat, Mantri BRI adalah tenaga profesional yang dilatih untuk melihat anomali. Mereka tidak hanya melihat angka di atas kertas, tetapi juga membandingkannya dengan kondisi riil di lapangan.

Seperti, terdapat catatan keuntungan Rp50 juta per bulan, namun stok barang di gudang hanya senilai Rp5 juta.

Analis akan menganggap data tersebut fiktif, yang berujung pada hilangnya kepercayaan (trust) secara permanen.

Bank lebih menghargai kejujuran meskipun angka omzet kecil, asalkan konsisten dan masuk akal secara bisnis.

 

  1. Mengabaikan Pentingnya NIB dan Kepatuhan BPJS

Pada tahun 2026, pemerintah semakin memperketat integrasi data. Surat Keterangan Usaha (SKU) dari Kelurahan memang masih berlaku untuk skema mikro tertentu, namun Nomor Induk Berusaha (NIB) berbasis Risk-Based Approach (RBA) kini menjadi instrumen wajib yang lebih kuat.

Selain itu, untuk pengajuan KUR di atas Rp100 juta (KUR Kecil), kepesertaan aktif di BPJS Ketenagakerjaan kini menjadi syarat yang tidak bisa ditawar.

Banyak pelaku UMKM menganggap ini sebagai beban biaya tambahan, padahal ini adalah bentuk mitigasi risiko bagi pemilik usaha. Kegagalan melampirkan bukti kepesertaan aktif sering kali membuat proses administrasi terhenti di tengah jalan.

  1. Ketidakmampuan Memisahkan Uang Pribadi dan Bisnis

Ini adalah penyakit kronis UMKM di Indonesia. Saat proses wawancara atau pemeriksaan rekening koran, pihak bank sering menemukan transaksi yang campur aduk. Uang modal digunakan untuk cicilan kendaraan pribadi, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan konsumtif lainnya.

Bagi perbankan, ini menunjukkan manajemen risiko yang buruk. Bank ingin memastikan bahwa dana KUR yang disalurkan benar-benar digunakan untuk produktivitas usaha, bukan untuk gaya hidup.

Jika rekening koran Anda terlihat seperti "terminal" di mana uang masuk langsung habis untuk keperluan non-bisnis, maka probabilitas ACC akan menurun drastis.

 

 

  1. Ego Plafon: Meminjam Melampaui Kapasitas (Repayment Capacity)

Kesalahan kelima yang jarang disadari adalah keserakahan dalam menentukan plafon pinjaman. Banyak pengusaha merasa karena usahanya sudah jalan, mereka layak mendapatkan Rp500 juta, padahal setelah dihitung secara matematis, arus kas mereka hanya sanggup menanggung cicilan untuk plafon Rp100 juta.

Bank menggunakan rumus Debt Service Coverage Ratio (DSCR). Mereka akan menghitung apakah sisa keuntungan bersih Anda setelah dikurangi biaya operasional dan biaya hidup masih cukup untuk membayar angsuran.

Editor : Imron Arlado
#Pinjaman KUR #KUR 2026 #tutorial #cara mudah #kredit usaha rakyat #pinjol #KUR BRI #pengajuan KUR