JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, tarot semakin sering muncul di liminasi media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk membaca peruntungan cinta, karier, bahkan nasib hubungan yang sedang berada di ujung tanduk.
Namun, di tengah popularitasya, muncul kritik yang tidak kalah kencang. Sebagian kalangan menyebut tarot sebagai Pseudoscience atau ilmu semu, sesuatu yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak memiliki dasar ilmiah yang bisa diuji.
Istiah Pseudoscience biasanya digunakan untuk praktik yang meklaim mampu menjelaskan atau memprediksi sesuatu, tetapi tidak didukung metode ilmiah yang jelas.
Dalam kasus tarot, tafsir kartu sangat bergantung pada interprestasi pembacanya. satu kartu bisa dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada standar baku, tidak ada pengujian labolatorium, tidak ada hasil yang bisa dipreplikasi secara konsisten.
Bagi kalangan skeptis, inilah alasan utama tarot sulit diterima sebagai sesuatu yang ilmiah.
Baca Juga: Pemilihan Koko Cici Cilik 2026, Jadi Juara Buah Kepercayaan Diri
Selain itu, psikolog sering mengaitkan ramalan tarot dengan apa yang disebut sebagai efek barnum. Ini adalah kondisi ketika seseorang merasa deskripsi yang sebenarnya umum terdengar sangat personal dan akurt untuk dirinya.
Kalimat seperti “Kamu sedang berada di fase pencarian makna hidup” atau “Ada keraguan dalam hubunganmu saat ini” bisa terasa sangat tepat, padahal pernyataan tersebut relevan untuk banyak orang.
Ditambah lagi dengan bias konfirmasi kecenderungan manusia untuk lebih mengingat hal yang sesuai dengan harapan, ramalan yang “kena” akan terasa luar biasa, semetara yang meleset perlahan dilupakan.
Dr. Andi Prasetyo, seorang psikologi klinis di Jakarta, melihat fenomena ini dari sudut pandang kesehatan mental. Ia mengatakan bahwa tarot mungkin bisa dipahami sebagai alat refleksi diri jika digunakan secara bijak, tetapi menjadi bermasalah Ketika dianggap sebagai penentu masa depan.
Menurutnya, ada risiko Ketika seseorang terlalu mengutungkan keputusan hidup pada hasil pembacaan kartu. “Masalahnya bukan pada kartunya, tetapi ada ketergantungannya. Jika orang berhenti berpikir kritis dan menyerahkan pilihan hidup pada ramalan, itu berbahaya,” ujarnya.
Dari sisi keagamaan, kritik juga muncul. Ustaz Ahmad Fauzi, seorang penceramah di Bandung, menilai praktik tarot bisa menimbulkan persoalan keyakinan. Ia berpendapat bahwa perkara masa depan dan hal gaib bukanlah soal wilayah manusia.
“Ketika orang mulai mencari kepastian Nasib lewat kartu, di situkah letak kekhawatirannya. Bisa muncul ketergantungan dan perlahan mejauh dari nilai-nilai keagamaan,” Katanya.
Namun tidak semua orang sepakat dengan label ilmu palsu yang dilekatkan pada tarot. Maya Lestari, seroang praktisi tarot yang cukup dikena di media sosial, menolak anggapan bahwa ia sedang menawarkan sains atau kepastian mutlak.
Menurutnya, tarot hanyalah media simbolik untuk membantu orang berbicara tentang perasaan dan situasi hidup mereka. “Saya selalu bilang ke klien, ini bukan vonis. Ini bahan refleksi. Keputusan tetap di tangan mereka,” Jelasnya. Ia melihat tarot sebagai ruang dialog dan eksploritasi diri, bukan alat untuk memastikan masa depan.
Perdebatan tentang tarot tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Di satu sisi, ada tuntutan rasionalitas dan bukti ilmiah. Di sisi lain, ada kebutuhan manusia untuk mencari makna, harapan dan pegangan Ketika menghadapi ketidakpastian.
Pada akhirnya, sikap kritis dan kesadaran diri menjadi kunci. Apa pun pandangannya, Keputusan hidup tetap berada di tangan masing-masing, bukan sepenuhnya pada kartu yang terbuka di atas maja.
NENSI
Editor : Imron Arlado