JAWA POS RADAR MOJOKERTO – World Radio Day atau Hari Radio Sedunia jatuh pada 13 Februari 2026.
Peringatan ini ditetapkan UNESCO untuk merayakan peran audio sebagai media informasi, edukasi dan hiburan yang menjangkau masyarakat luas, bahkan hingga pelosok yang sulit tersentuh internet.
Namun pada 2026, masihkah relevan radio bertahan di era Spotify dan Podcast?
Di tengah dominasi platform streaming seperti Spotify dan maraknya podcast digital, radio memang tak lagi menjadi satu-satunya sumber hiburan audio. Kini orang bisa memilih lagu sendiri, memutar ulang episode favorit, atau mendengarkan konten tanpa iklan.
Tetapi radio mempunyai kekuatan yang berbeda, siaran langsung dan kedekatan emosional.
Suara penyiar yang menyapa pendengar setiap pagi atau menemani perjalanan pulang kerja menghadirkan rasa kebersamaan yang sulit digantikan algoritma.
Radio tak hanya menyediakan music saja, beberapa hal yang tersedia dalam radio adalah:
- Informasi lalu lintas secara real time
- Berita lokal yang cepat dan relevan
- Interaksi langsung melewati telepon atau pesan pendengar
Hari Radio Sedunia menjadi pengingat bahwa radio masih menjadi media penting paling mudah diakses secara global. Dibandingkan internet yang membutuhkan kuota dan jaringan stabil, radio cukup dengan frekuensi dan perangkat sederhana.
Di beberapa daerah, radio masih tetap menjadi sumber informasi saat bencana, media komunikasi komunitas, sarana produksi UMKM lokal, dan ruang diskusi publik yang inklusif.
Tema Hari Radio Sedunia juga menyoroti bagaimana radio beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk transformasi ke siaran daring dan aplikasi streaming studio.
Bagi generasi muda, radio mungkin bukan pilihan utama untuk mendengarkan musik. Tetapi dalam konteks lokalitas, kecepatan informasi, dan sentuhan personal, radio tetap memiliki tempat tersendiri.
NENSI
Editor : Imron Arlado