JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ikan sapu-sapu kerap dipandang sebagai hama perairan karena populasinya yang cepat berkembang dan berdampak terhadap ekosistem lokal.
Spesies ini banyak ditemukan di sungai, danau, waduk hingga saluran air di Indonesia. Meski sering ditangkap ikan sapu-sapu tetap bertahan dan bahkan terus meluas. Lalu, apa yang membuat ikan ini sulit untuk dibasmi?
Salah satu faktor utamanya adalah kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Ikan sapu-sapu dikenal dapat bertahan hidup di perairan yang keruh, termasuk air yang tercemar dan berkadar oksigen rendah.
Mereka memiliki kemampuan bernafas tambahan dengan menelan udara langsung dari permukaan, sehingga dapat tetap bertahan meski kondisi air tidak mendukung.
Dari sisi fisik, tubuh ikan sapu-sapu dilindungi oleh lapisan tulang keras yang menyerupai dengan perisai, sehingga membuat ikan sapu-sapu sulit untuk dimangsa oleh predator.
Selain itu, siripnya yang berduri juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan, sehingga banyak predator enggan untuk memangsa ikan ini.
Ikan sapu-sapu mampu bertelur dalam jumlah besar dan dapat memijah lebih dari sekali dalam setahun. Sarang telur ikan sapu-sapu sering dibuat di lubang-lubang tepi sungai atau dasar perairan, yang relatif aman dari gangguan, sehingga tingkat keberhasilan menetas cukup tinggi.
Masuknya ikan sapu-sapu di perairan Indonesia juga tidak terlepas dari faktor manusia. Spesies ini awalnya populer sebagai pembersih akuarium, kemudian dilepaskan ke alam bebas sehingga membuat spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.
Para ahli menilai bahwa pengendalian ikan sapu-sapu memerlukan pendekatan, bukan hanya sekadar penangkapan sesaat.
Edukasi masyarakat, pembatasan pelepasan ikan sapu-sapu, serta riset pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk produk non-konsumsi seperti pakan ternak atau pupuk menjadi beberapa alternatif yang terus dikaji. TISA
Editor : Imron Arlado