JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tahun 2026 diprediksi menjadi momen istimewa bagi pecinta astronomi.
Berbagai hujan meteor akan menghiasi langit sepanjang tahun, mulai dari lyrids pada April hingga geminids pada desember.
Menurut data American meteor society, puncak hujan meteor di 2026 antara lain lyrids (21-22 april), Eta Aquarids (5–6 Mei), Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids (30–31 Juli), Perseids (12–13 Agustus), Orionids (21–22 Oktober), serta Geminids (13–14 Desember).
Perseids dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling populer dengan intensitas sekitar 50–100 meteor per jam saat puncaknya, sedangkan Geminids dapat menampilkan hingga sekitar 120 meteor per jam dalam kondisi langit gelap.
Agar pengalaman berburu “bintang jatuh” semakin maksimal, pemilihan lokasi menjadi faktor penting. Area terbuka yang jauh dari polusi cahaya kota sangat disarankan karena langit yang gelap membuat meteor terlihat lebih jelas.
Bali dan Sekitarnya, Surga Langit Gelap
Beberapa wilayah di Bali bagian utara dan timur memiliki tingkat kegelapan langit yang lebih baik dibanding area selatan yang terang oleh lampu kota.
Lokasi yang direkomendasikan antara lain Mount Batur atau Dataran Kintamani dengan ketinggian sekitar 1.300–1.500 meter yang membantu menghalangi cahaya, Sidemen Valley dengan horizon terbuka, hingga kawasan Munduk dan Danau Buyan/Tamblingan yang berpenduduk jarang sehingga langit tampak lebih jernih.
Pantai Amed dan Lovina di Bali utara juga menawarkan bentangan laut dengan minim cahaya buatan, sementara tebing selatan Nusa Penida dikenal sebagai salah satu area tergelap di pulau tersebut—ideal untuk mengamati meteor.
Pegunungan dan Alam Terbuka Jadi Favorit
Selain Bali, kawasan pegunungan atau pantai terpencil di Indonesia sering dianggap cocok untuk stargazing karena jauh dari keramaian. Diskusi komunitas daring menyebut tempat seperti Gunung Bromo, Dieng, hingga Kawah Wurung di Bondowoso sebagai opsi menarik selama kondisi langit cerah dan minim lampu.
Beberapa pengguna juga menekankan bahwa melihat galaksi atau meteor pada dasarnya bisa dilakukan “di mana saja” selama cuaca mendukung dan lokasi bebas dari polusi cahaya.
Tips Agar Pengamatan Maksimal
Selain lokasi, waktu pengamatan juga berpengaruh. Untuk fenomena seperti Perseids, momen menjelang fajar sering menjadi waktu terbaik karena langit berada dalam kondisi paling gelap.
Pengamat juga dianjurkan memilih malam dengan gangguan cahaya bulan minimal serta mencari area dengan pandangan langit luas tanpa halangan bangunan atau pepohonan.
Antusiasme Pengamat Langit Meningkat
Rangkaian fenomena langit yang dapat dilihat dengan mata telanjang membuat 2026 disebut sebagai tahun yang penuh peristiwa astronomi menarik bagi pengamat berpengalaman maupun pemula.
Dengan persiapan matang dan lokasi yang tepat, berburu hujan meteor bisa menjadi pengalaman tak terlupakan—mengajak masyarakat sejenak menatap ke atas dan menyadari betapa luasnya alam semesta.
JATI
Editor : Imron Arlado