Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Siswa SD di NTT Gantung Diri, Pesan yang Ditulis Tangan Begitu Memprihatinkan

Imron Arlado • Rabu, 4 Februari 2026 | 20:27 WIB
Tragedi siswa SD di Ngada NTT
Tragedi siswa SD di Ngada NTT

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tragis. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan seorang siswa berinisial YBS usia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 SD ini ditemukan gantung diri di sebuah pohon cengkeh, pada 29 Januari 2026.

Dari lokasi kejadian polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditinggalkan korban sebelum mengakhiri hidupnya.

Informasi awal dari keterangan keluarga, sebelum peristiwa siswa SD gantung diri ini terjadi, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen kebutuhan sederhana bagi pelajar SD seharga Rp10.000.

Permintaan itu tidak dikabulkan oleh sang ibu MBT (47) karena tidak memiliki uang. Namun, proses penyelidikan masih berlanjut sehingga kemungkinan faktor penyebab lain masih terus didalami.

Bagi keluarga, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah. Uang Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya yang sudah berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok. Sementara, ibunya merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan serabutan.

 

Tidak jauh dari pondok itulah korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi menggantung di pohon cengkeh tidak jauh dari pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

Kondisi ekonomi ibu korban disebut memang sulit, ia harus mengurus 5 orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia. Sementara ayah korban sudah berpisah sejak sekitar 10 tahun lalu.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa, termasuk latar belakang yang melatarbelakangi siswa SD bunuh diri di Ngada tersebut.

 

 

Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi korban

Saat mengevakuasi YBS anggota Polres Ngada menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban sebelum meninggal dunia. Surat tersebut ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Surat itu ditujukan kepada sang ibu dan ditulis menggunakan bahasa daerah. Di bagian akhir surat, korban juga menggambar simbol wajah menangis.

Isi surat tersebut antara lain menyebutkan permintaan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Surat itu memperkuat dugaan bahwa korban mengakhiri hidupnya dengan sadar.

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o (Mama, relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar anak yang menangis.

 

 

Kejadian ini mendapat reaksi serius dari berbagai pihak

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan kegagalan pemerintah dalam melakukan deteksi dan pencegahan dini terhadap persoalan sosial yang dialami korban.

Beliau menyatakan "Sebagai Gubernur NTT, saya turut berduka cita yang mendalam dengan kejadian di Jeri Bu'u adik kita harus meninggal, karena sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada, sampai tingkat bawah, untuk bersama perangkat sistem yang lain. Kami gagal untuk mendeteksi dan solusi untuk anak tersebut. Apapun kisahnya ini adalah tamparan keras bagi kemanusiaan kita," ujar Gubernur Laka Lena, pada Rabu (4/2/2026).

Melki Laka Lena menilai kejadian tersebut menjadi tamparan keras bagi pemerintah agar lebih serius mencegah peristiwa serupa.

"Tamparan keras bagi semua yang kita kerjakan bahwa ternyata kita masih belum berhasil untuk menjaga agar tidak ada nyawa yang meninggal sia-sia karena kondisi seperti ini," ujar Melki.

Senada, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti bahwa insiden tersebut bukan hanya soal ekonomi semata, tetapi juga perlu ditelusuri lebih dalam mengenai kesehatan mental dan faktor lingkungan yang mungkin ikut berkontribusi.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Andreas Hugo menyoroti bahwa peristiwa ini harus menjadi alarm serius bagi negara dalam menjamin hak anak, termasuk hak atas pendidikan yang layak.

Tak hanya itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh demi memahami akar persoalan tragedi ini.

Kasus ini lantas menjadi perbincangan publik tentang betapa kompleksnya masalah yang dihadapi anak-anak di daerah tertinggal, dari keterbatasan ekonomi, kesehatan mental, hingga sistem perlindungan anak yang belum optimal dan menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bersinergi dalam mencegah kejadian serupa di masa depan. NESTI

Editor : Imron Arlado
#perlindungan anak #siswa sd ntt akhiri hidup #pendidikan #isu sosial #kemiskinan #Ngada #kpai #gubernur ntt