RADAR MOJOKERTO - Berbagai jenis media dipenuhi berbagai isu pernikahan, kenaikan angka perceraian dan penurunan jumlah pernikahan dari tahun ke tahun.
Diketahui melalui data BPS tahun 2024 mencatat sekitar 408.347 kasus perceraian terdaftar dengan berbagai alasan, salah satunya perihal ekonomi.
Sementara itu, penurunan angka pernikahan sudah terjadi sejak 2018, meski pada 2025 sempat mengalami kenaikan sebesar 0,12%.
Fenomena tersebut banyak menyeret perhatian masyarakat yang belum menikah, salah satu yang paling dominan adalah Gen Z.
Dalam fase ini, Gen Z dianggap telah memasuki usia dewasa yang telah sah dan diperbolehkan untuk melangsungkan pernikahan.
Namun kebanyakan generasi muda memilih untuk sendiri dan malah takut menjalani pernikahan.
Meski di iming-iming ‘marketing KUA’ yang sempat berseliweran di TikTok, yaitu dengan pengadaan nikah massal, mahar gratis, dan difasilitasi negara nyatanya tren ketakutan dalam pernikahan seolah belum dapat terkalahkan.
Definisi Marriage is Scary
Marriage is Scary, sebutan untuk fenomena ketakutan dalam pernikahan. Secara bahasa, marriage is scary adalah pernikahan yang menakutkan. Fenomena ini cukup meningkat belakangan, mengapa?
Munculnya tren dan berita di sosial media mengenai maraknya kasus perselingkuhan, kekerasan, dan problematika rumah tangga menjadi pemicu utama dari fenomena marriage is scary.
Fenomena tersebut banyak menghantui individu, khususnya di usia 20 an atau usia siap menikah seperti Gen Z.
Gen Z yang dikenal sebagai individu penuh kebebasan namun sering terikat dalam zona overthinking atau kecemasan menilai pernikahan adalah zona penuh tantangan dan tekanan sehingga minim kebebasan didalamnya.
Marriage is scary bisa jadi bentuk ekspresi khawatir, ragu, atau takut dalam menjalani pernikahan.
Faktor Penyebabnya
Ada berbagai macam faktor yang mendukung fenomena ‘marriage is scary’ di kalangan Gen Z. 4 faktor tersebut diantaranya sebagai berikut.
1. Ketidaksiapan menghadapi realita pernikahan
Jalan dalam pernikahan memang tidak selalu mulus. Perbedaan pendapat, perdebatan, dan pandangan hidup akan selalu ada meski sudah bertahun-tahun menikah.
Ketidaksiapan untuk menerima realita pernikahan yang tak selalu indah inilah yang mengakibatkan banyak dari generasi masa kini memilih menunda pernikahan.
2. Permasalahan ekonomi
Bukan hanya berpatok pada norma dan budaya untuk menikah sesuai pada usianya, Gen Z lebih memperhatikan berbagai aspek pernikahan yang bisa memicu pertengkaran, termasuk soal perekonomian.
Kesiapan ekonomi sangat dipertimbangkan, mengingat saat ini inflasi dan kebutuhan hidup semakin meningkat sehingga ketidakstabilan bisa menjadi salah satu faktor marriage is scary nantinya.
3. Ketakutan akan kegagalan dan trauma
Takut untuk gagal adalah salah satu penyebab para generasi masa kini menilai pernikahan adalah sesuatu menakutkan.
Melihat banyaknya pernikahan yang kurang menyenangkan di sekitar, termasuk adanya trauma kegagalan yang dialami oleh orang terdekat membuat banyak orang mempertimbangkan ulang mengenai pernikahan.
Alhasil, ketakutan akan kegagalan dan trauma inilah yang membuat seseorang memilih untuk menunda pernikahan sampai dirasa siap.
4. Takut hilang kebebasan
Banyak orang menganggap bahwa pernikahan merupakan sebuah institusi perenggut kebebasan.
Maka dari itu, bagi gen z yang umumnya masih ingin mengeksplor banyak hal dan terbebas dari komitmen agaknya enggan memilih menikah terlalu cepat.
Cara Mengatasi Pemikiran ‘Marriage is Scary’
Untuk mengatasi anggapan ‘marriage is scary’, agaknya para gen z perlu memperbaiki mindset terlebih dahulu mengenai pernikahan.
Pernikahan tidak jadi menyeramkan apabila kedua belah pihak memiliki kesadaran untuk saling menguatkan, memperbaiki komunikasi, dan bertanggung jawab atas problematika yang mungkin terjadi didalamnya.
Beban dalam pernikahan harus ditanggung berdua, sehingga tak bertumpu dan memberatkan salah satunya.
Intinya, pernikahan bukanlah sesuatu yang menyeramkan apabila diri sendiri maupun pasangan sudah saling mempersiapkannya dengan baik.
Editor : Imron Arlado