JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gunung semeru bukan hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di pulau jawa, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan Masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut, gunung semeru berdiri megah di wilayah kabupaten lumajang dan malang, jawa timur.
Bagi warga setempat, gunung ini tidak sekadar bentang alam, melainkan simbol kekuatan, sumber penghidupan, sekaligus ruang spiritual yang dihormati turun-temurun.
Dalam kehidupan sehari-hari, semeru memberikan banyak manfaat. Tanah di Kawasan lerengnya terkenal subur karena diperkaya material vulkanik, sehingga cocok untuk pertanian.
Banyak warga menggantungkan hidup pada hasil bumi seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan kopi.
Selain itu, sektor pariwisata juga turut menggerakan roda ekonomi. Jalur pendakian yang populer menarik wisatawan dari berbagai daerah, membuka peluang usaha mulai dari homestay, warung makan, hingga jasa pemandu.
Namun, hidup berdampingan dengan gunung berapi aktif tentu bukan tanpa resiko. Erupsi dan aktivitas vulkanik menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi Masyarakat. Meski demikian warga telah terbiasa beradaptasi.
Sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta gotong royong antar warga menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana. Banyak dari mereka percaya bahwa memahami “tanda-tanda alam” dapat membantu mengurangi dampak bahaya.
Di balik perannya sebagai sumber kehidupan, gunung semeru juga sarat nilai budaya dan spiritualnya. Sebagian Sebagian masyarakat, khususnya komunitas adat Tengger, memandang gunung ini sebagai tempat suci.
Semeru kerap dikaitkan dengan legenda kuno yang menyebutnya sebagai puncak mahameru, gunung uci dalam kosmologi hindu. Keyakinan ini melahirkan berbagai tradisi, seperti ritual sesaji yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan ungkapan rasa Syukur.
Tradisi tersebut bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Masyarakat diajarkan untuk tidak serakah dalam memanfaatkan alam serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan semeru lebih dari sekedar objek geografis ia Adalah bagian dari identitas kolektif warga. Menariknya, di tengah perkembangan zaman, kepercayaan lokal masih bertahan meski bersanding dengan ilmu pengetahuan modern.
Banyak warga kini menggabungkan keduanya: mengikuti informasi resmi dari otoritas vulkanologi, sekaligus tetap menjalankan tradisi yang dianggap membawa ketenangan batin. Perpaduan ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu menghapus kearifan lokal, melainkan dapat berjalan berdampingan.
Gunung Semeru juga mengajarkan tentang ketangguhan. Letusan, hujan abu, hingga lahar dingin pernah menguji kekuatan masyarakat sekitar. Namun, dari setiap ujian itu lahir solidaritas dan semangat untuk bangkit. Relokasi, pembangunan kembali rumah, dan pemulihan ekonomi menjadi bukti bahwa harapan selalu ada, bahkan setelah bencana.
Baca Juga: Sempat Buron, Lima Remaja Pengeroyokan saat Malam Tahun Baru di Kota Mojokerto Diringkus
Pada akhirnya, Gunung Semeru adalah gambaran hubungan kompleks antara manusia dan alam—tentang manfaat, ancaman, kepercayaan, serta ketahanan. Bagi masyarakat sekitar, hidup di bawah bayang-bayang Semeru berarti belajar menghormati alam sekaligus berani menghadapi ketidakpastian.
Gunung ini tidak hanya menjulang secara fisik, tetapi juga berdiri kokoh dalam budaya, keyakinan, dan perjalanan hidup mereka.
Dengan segala maknanya, Semeru mengingatkan bahwa alam bukanlah sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan dipahami dan dijaga. Selama nilai itu terus dipegang, gunung tertinggi di Jawa ini akan tetap menjadi sumber inspirasi dan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
JATI
Editor : Imron Arlado