JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Balap liar masih menjadi fenomena yang marak terjadi di berbagai daerah, terutama di kalangan remaja. Aksi adu kecepatan di jalan umum ini kerap dilakukan pada malam hingga dini hari.
Balap liar seringkali memanfaatkan kondisi jalan yang sepi. Meskipun sudah sering ditertibkan oleh aparat kepolisian, balap liar seolah tak pernah benar-benar hilang.
Bagi sebagian remaja, balap liar bukan sekadar hobi, melainkan ajang pembuktian diri, seringkali dikenal dengan kata gengsi. Pengakuan dari lingkungan pergaulan/validasi, hingga keinginan untuk terlihat berani dan hebat yang menjadikan alasan mereka terjun ke dunia balap illegal tersebut.
Namun, dibalik gengsi dan sensasi adrenalin, balap liar menyimpan bahaya besar. Aksi ini kerap memicu kecelakaan lalu lintas yang berujung luka berat bahkan kematian, baik bagi pelaku maupun pengguna jalan lainnya.
Selain membahayakan keselamatan, kendaraan yang digunakan dalam aksi balap liar umumnya tidak memenuhi standar kelayakan jalan. Banyak motor yang telah dimodifikasi secara ekstrem tanpa memperhatikan aspek keamanan.
Beberapa diantaranya menggunakan knalpot tidak standar yang menimbulkan kebisingan berlebihan, ban tipis atau gundul, serta sistem pengereman yang tidak sesuai standar.
Kepolisian terus melakukan razia dan patroli rutin untuk menekan angka balap liar. Kendaraan yang sering digunakan sering kali disita, sementara para pelaku diberikan sanksi tilang hingga pembinaan.
Meski demikian, upaya penindakan dinilai belum cukup tanpa dukungan dari keluarga dan lingkungan.
Pengamatan sosial menilai bahwa fenomena balap liar juga dipicu oleh minimnya ruang ekspresi dan fasilitas bagi remaja. Kurangnya sirkuit resmi yang terjangkau serta lemahnya pengawasan orang tua membuat remaja mencari pelampiasan di jalanan umum.
Melihat kejadian ini, sangat diperlukan peran bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini. Edukasi tentang keselamatan berlalu lintas, pembinaan minat dan bakar, serta penyediaan sarana balap resmi dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang agar remaja tidak lagi menjadikan jalanan umum sebagai arena balapan.
NENSI
Editor : Imron Arlado