RADAR MOJOKERTO - Gempa magnitudo 4,5 mengguncang Yogyakarta pada Selasa (27/01/2026).
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi pukul 13.15 WIB ini berpusat di Bantul (wilayah timur Yogyakarta).
Pasalnya, gempa tak hanya dirasakan oleh masyarakat disekitarnya, melainkan juga terasa sampai wilayah Solo dan Wonogiri.
Gempa dengan kedalaman 11 kilometer tersebut sontak membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah.
Jika ditelisik lebih jauh ke belakang, Yogyakarta adalah salah satu wilayah di Indonesia yang kerap dilanda gempa bumi. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa penyebab dibaliknya?
Aktivitas Aktif Darat dan Laut
Yogyakarta berpotensi lebih untuk terjadinya gempa sebab berada di kawasan aktif dan kompleks.
Dikatakan aktif dan kompleks karena wilayahnya yang masuk dalam kawasan sumber gempa potensial.
Dari laut, Yogyakarta masuk dalam zona subduksi dengan potensi magnitudo hingga 8,7 saat terjadi gempa.
Bagian darat, sesar Opak aktif bisa berpotensi menghasilkan gempa mencapai magnitudo 6,6 di wilayah Yogyakarta.
Cincin Api Pasifik
Jika mengulas alasan dibalik terjadinya gempa, letak Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) memegang peranan di dalamnya.
Cincin Api Pasifik adalah daerah pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Dikutip dari geodesigeoinamik.ft.ugm.ac.id, hampir 90% gempa bumi yang terjadi di berbagai belahan jiwa disebabkan oleh keberadaan zona Cincin Api Pasifik.
Dilihat dari letak geografis, Yogyakarta berada diantara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.
Berlokasi diantara lempeng tektonik itulah yang menyebabkan Yogyakarta menjadi salah satu kawasan zona megathrust yang bisa memicu adanya gempa dengan magnitudo besar, bahkan mampu menimbulkan tsunami.
Posisi tersebut juga memicu aktivitas seismik signifikan yang mengakibatkan Yogyakarta lebih rawan terjadi gempa bumi.
Patahan Opak
Patahan Opak atau sesar Opak merupakan patahan aktif sejauh 45 km yang berada di sepanjang aliran sungai Opak, Yogyakarta.
Patahan Opak yang membatasi Pegunungan dan dataran rendah di Yogyakarta ini melintasi wilayah Sleman, Bantul, dan bermuara di Parangtritis.
Patahan Opak yang lebarnya diperkirakan hingga 2,5 km ini mulai dikenal sejak terjadinya gempa bumi di Yogyakarta pada 2006 lalu.
Patahan Opak yang aktif ini bisa menimbulkan gempa berkekuatan hingga 6,6 magnitudo.
Baca Juga: Sama-sama Bentuk Pelecehan Merugikan! Berikut Perbedaan Mencolok Antara Child Grooming dan Pedofilia
Dikutip dari artikel BNPB, secara histori Yogyakarta telah dilanda gempa besar dan merusak sebanyak 12 kali.
Gempa pertama ditemukan terjadi pada 1840. Setelahnya gempa terjadi pada 1859, 1867, 1875, 1937, 1943, 1957, 1981, 1992, 2001, 2004, dan 2006.
Gempa tersebut adalah catatan gempa besar yang melanda Yogyakarta hingga menewaskan ribuan korban dan merobohkan hingga ratusan ribu bangunan di wilayah terdampak.
Editor : Imron Arlado