RADAR MOJOKERTO - Belakangan sedang ramai dibahas terkait buku karya aktris Aurelie Moeremans bertajuk Broken Strings.
Buku elektronik yang mengisahkan pelecehan dan kekerasan tersebut sontak mengarahkan pandangan warganet bahwa apa yang dialami Aurelie adalah bagian dari bentuk child grooming.
Perlu diketahui bahwa child grooming sendiri merupakan istilah teknik manipulasi pikiran anak yang dilakukan oleh orang dewasa.
Child grooming biasanya dilakukan untuk memanfaatkan sang anak sebagai objek pelecehan seksual, tindak kekerasan, dan eksploitasi.
Istilah lain dari pelecehan yang dilakukan dengan anak dibawah umur adalah pedofilia. Pedofilia disini muncul sebagai ketertarikan seksual seseorang dengan anak dibawah umur.
Meski keduanya sama-sama menggunakan anak sebagai objek, child grooming dan pedofilia ternyata memiliki makna berbeda. Seperti apa penjelasannya? Simak artikel berikut.
Definisi Child Grooming
Child grooming adalah istilah yang merujuk pada proses atau pola manipulasi yang dilakukan oleh orang yang lebih dewasa kepada anak-anak untuk kebutuhan eksploitasi.
Child grooming dilakukan dengan memberikan perlakuan istimewa pada anak untuk mengendalikan emosi dan psikologi anak.
Baca Juga: Oversharing di Media Sosial: Antara Ekspresi Diri dan Risiko
Fenomena child grooming melibatkan berbagai aspek seperti norma sosial, struktur kekuasaan, dan ketidakseimbangan kekuasaan.
Norma sosial yang meminta anak untuk hormat pada yang lebih dewasa dan kurangnya pemahaman untuk mendeteksi perilaku grooming bisa memberikan keuntungan besar bagi pelaku.
Orang dewasa yang dianggap lebih memahami dunia dan berpengalaman membuat korban child grooming dan sekitarnya terkadang tidak menyadari bahwa telah memasuki proses manipulasi.
Kekuasaan melalui manipulasi emosi dan perilaku pelaku yang ‘terlihat’ istimewa pada korban akan mengisolasi korban sampai eksploitasi yang tengah terjadi sulit diidentifikasi.
Definisi Pedofilia
Menurut artikel Halodoc, pedofilia adalah kelainan seksual yang bentuknya termasuk dalam kekerasan seksual pada anak maupun remaja di bawah 14 tahun.
Meski tidak selalu melibatkan kekerasan seksual pada anak, namun seorang pedofilia berpotensi lebih besar untuk melakukannya demi memenuhi hasrat seksual.
Perbedaan Antara Child Grooming dan Pedofilia
Dikutip dari salah satu reels @intimudaindonesia, perbedaan child grooming dan pedofilia terletak pada perilaku dan kecenderungan.
Child grooming kerap dibungkus dengan pujian berlebihan, perhatian, dan hadiah sebagai bentuk manipulasi atau strategi agar anak merasa nyaman.
Sedangkan pada pedofilia, kecenderungan datang dari gangguan keterikatan seksual pelaku pada anak dibawah umur atau yang belum memasuki masa pubertas.
pedofilia tidak berfokus pada proses manipulasi, melainkan berhenti di ranah preferensi seksual individu. Namun seorang pedofilia bisa menggunakan child grooming untuk memenuhi keinginannya.
Baca Juga: Tuntut Penguatan Gakkum Anggaran Desa, GMB Gelar Aksi di Kantor Inspektorat Kabupaten Mojokerto
Cara Mengatasi dan Menghindari Pelaku Child Grooming dan Pedofilia
1. Kenali tanda
Tetap waspada dan mengenali tanda dari pelaku. Pelaku child grooming dan seorang pedofilia biasanya kerap melakukan manipulasi untuk menaklukkan korban sebelum dieksploitasi untuk kepentingan pribadi.
Salah satu contohnya adalah dengan memberikan hadiah, perlakuan istimewa, pujian, sering melakukan kontak fisik, atau bahkan melakukan perilaku seksual kepada anak seperti mengangkat rok atau membuka pakaian.
2. Menjaga privasi
Di era digital seperti sekarang, privasi sangat diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Jangan bagikan alamat rumah, foto rumah, atau identitas pribadi lainnya sebagai bentuk menjaga keamanan diri.
3. Lapor dan periksakan diri ke ahlinya saat mendapati perlakuan tidak wajar
Ketika sudah mendeteksi adanya ketidakwajaran dari sebuah interaksi, segera lapor kepada orang terdekat untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
Selain itu, segera hubungi psikolog atau psikiater jika diperlukan untuk membantu mendapat saran atau penanganan yang tepat.
Editor : Imron Arlado