Banyak remaja menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling tanpa henti, berpindah dari satu platform lain. Kebiasaan ini perlahan mempengaruhi tidur, konsentrasi belajar, hingga cara mereka memandang diri sendiri.
Tidak sedikit remaja yang cemas, mudah marah, atau kehilangan rasa percaya diri dengan kehidupan “sempurna” yang ditampilkan di media sosial. Psikologi anak remaja menilai bahwa kecanduan media sosial dapat memicu stres dan tekanan emosional.
Remaja menjadi sangat bergantung pada jumlah like, komentar, dan respons warganet sebagai tolak ukur penerimaan sosial. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan tidak dihargai dan rendah diri.
Baca Juga: Banjir Luapan Kali Lamong di Mojokerto Butuh Kolaborasi Pemda, Desa, dan BBWS
Dampak lainnya terlihat pada menurunnya kualitas interaksi sosial didunia nyata. Remaja cenderung lebih fokus pada layar gawai dibandingkan berkomunikasi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya. Kondisi ini berisiko menghambat perkembangan keterampilan sosial dan empati.
Orang tua dan sekolah memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Pendampingan penggunaan gawai, pembatasan waktu layar, serta edukasi literasi digital nilai dapat membantu remaja menggunakan media sosial secara lebih sehat.
Selain itu, mendorong aktivitas positif seperti olahraga, membaca, dan kegiatan sosial juga menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan mental remaja. Kecanduan media sosial bukan sekadar tren, melainkan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Tanpa pengawasan dan kesadaran yang tepat, media sosial yang seharusnya menjadi alat pendukung justru dapat berubah menjadi ancaman bagi kesehatan mental generasi muda.
CINDY
Editor : Imron Arlado