Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Roti dan Sereal Makin Populer, Kenapa Sarapan Nasi Masih Bertahan di Tren Modern?

Imron Arlado • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:03 WIB
Berikut penjelasan mengapa sarapan nasi masih bertahan di tren modern?
Berikut penjelasan mengapa sarapan nasi masih bertahan di tren modern?

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah maraknya sarapan dengan roti dan sereal instan, nasi tetap memiliki tempat istimewa di meja makan masyarakat indonesia. Sarapan dengan nasi telah menjadi bagian rutinitas turun-temurun.

Sebagian banyak orang masih belum terasa makan tanpa sepiring nasi hangat dan lauk sederhana. Namun, sebiasaan ini bukan hanya soal kenyang, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya Indonesia, pola makan, dan kebutuhan energi sehari-hari.

Sejak zaman dulu, nasi dikenal sebagai sumber karbohidrat utama. Hal ini dapat membantu memberikan energi lebih lama dalam sehari. Sangat berbeda ketika sarapan dengan olahan tepung, makanan manis.

Nasi akan memberikan rasa kenyang yang sangat stabil. Sehingga tubuh siap menjalankan aktivitas sehari-hari. Sebagian besar banyak orang masih terasa lapar jika melewatkan nasi saat sarapan.

Dari sisi budaya Indonesia, sarapan dengan nasi bukanlah hanya pengisi perut. Melainkan sebagai simbol kecukupan dan keseimbangan yang artinya sarapan dengan nasi dengan lauk sederhana tidak harus rumit.

Dalam kepercayaan tradisional, beras atau nasi dipandang sebagai berkah dari dewi kesuburan panen. Nasi juga memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat dan acara sosial.

 

Baca Juga: Ini Pesan Gus Barra kepada Tiga Kepala Dinas Baru Pemkab Mojokerto

 

Nasi juga menciptakan variasi kuliner lokal seperti nasi goreng, nasi padang, dan nasi kuning yang semakin digemari oleh masyarakat modern.

 Secara histori, dulu ketersediaan padi yang sangat melimpah karena beriklim agraris dan program pertanian pemerintah di masa lalu yang menjadikan nasi sebagai pilihan pangan yang efisien, mudah diakses, dan dijangkau.

Tren modern yang sekarang memang membawa banyak perubahan. Dengan sarapan yang dianggap lebih praktis dan kekinian. Namun, tidak semua orang cocok dengan pola sarapan tersebut.

Bagi sebagian orang dengan sarapan ringan tanpa nasi justru membuat tubuh cepat terasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Nasi membantu memberikan energi yang stabil terutama disajikan dengan lauk berprotein dan sayuran.

Menariknya, nasi sudah beradaptasi dengan gaya hidup modern. Sebagian orang kini memilih sarapan dengan porsi nasi yang lebih kecil. Dapat menggunakan nasi merah sebagai pengganti nasi dan menyeimbangkan dengan lauk yang sehat.

Di tengah perubahan zaman, sarapan dengan nasi tetap bertahan karena mampu memenuhi kebutuhan dasar tubuh dan kebiasaan sosial masyarakat Indonesia.

Dengan tradisi ini, membuktikan bahwa makanan lokal tidak selalu kalah dengan tren gaya hidup modern. Cukup diberi sentuhan penyesuaian dan sarapan nasi masih terus relevan dan menjadi pilihan yang tepat dan menyehatkan.

LULUS

 

Editor : Imron Arlado
#sarapan #Makanan Pokok #karbohidrat #gaya hidup modern #nasi #kebiasaan sarapan #tradisi kuliner #nutrisi harian #Budaya Makan