JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Menjelang dimulainya perkuliahan semester genap tahun ajaran 2025–2026, Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember mengambil langkah adaptif. Perkuliahan akan digelar secara daring mulai 23 Februari hingga 14 Maret 2026, tepat sebelum libur Hari Raya Idulfitri.
Kebijakan ini lahir dari diskresi dekanat yang mencermati padatnya kalender akademik serta jarak waktu yang sangat berdekatan antara awal kuliah dan libur Lebaran.
Dekan FISIP Universitas Jember, Suyani Indriastuti, menjelaskan bahwa saat ini mahasiswa masih menjalani libur semester ganjil dan sebagian besar telah pulang ke daerah asal masing-masing.
“Mereka hanya akan mengikuti tiga kali perkuliahan sebelum libur lebaran. Lalu saat libur lebaran, mereka kembali pulang kampung,” kata Suyani, Jumat (9/1/2026).
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan beban finansial yang tidak ringan, terutama bagi mahasiswa perantau dari luar Jember dan luar Pulau Jawa. Biaya transportasi yang harus dikeluarkan dalam waktu berdekatan—pulang ke kampus, mudik Lebaran, lalu kembali lagi ke Jember—menjadi pertimbangan utama.
“Mereka harus bolak-balik dari kampung halaman ke Jember dalam waktu berdekatan. Apalagi pada saat libur lebaran, transportasi susah dan mahal,” kata Suyani.
Atas dasar itu, dekanat memutuskan untuk menerapkan perkuliahan daring bagi sekitar 3.600 mahasiswa FISIP. Kebijakan ini mencakup mahasiswa dari berbagai program studi, mulai dari S1 Hubungan Internasional, Administrasi Negara, Administrasi Bisnis, Kesejahteraan Sosial, dan Sosiologi, hingga Program D3 Perpajakan dan Usaha Perjalanan Wisata, serta Program Pascasarjana S2 dan S3 Ilmu Administrasi.
Suyani menegaskan, kebijakan ini tetap sejalan dengan ketentuan akademik Universitas Jember yang memperbolehkan perkuliahan daring hingga 50 persen dari total tatap muka dalam satu semester.
“Kami menggunakan hak kuliah daring tersebut, sehingga mahasiswa tetap bisa mengikuti perkuliahan sesuai jadwal dari rumah masing-masing tanpa harus datang ke Jember,” ujarnya.
Meski demikian, fakultas tetap membuka opsi perkuliahan luring bagi mahasiswa yang sudah berada di Jember. Skema hybrid pun disiapkan agar semua mahasiswa tetap terakomodasi.
“Kalau ada mahasiswa yang ingin kuliah offline, silakan. Kami akan atur secara hybrid,” tambahnya.
Kebijakan ini telah dilaporkan kepada pimpinan universitas dan mendapat persetujuan.
“Saya sudah melaporkan kepada Wakil Rektor I Unej, Slamin. Beliau mempersilakan karena ini merupakan kewenangan masing-masing fakultas,” jelas Suyani.
Gagasan perkuliahan daring menjelang Lebaran ini berawal dari kegelisahan dosen Kesejahteraan Sosial, Kris Hendrijanto, yang menyoroti beratnya beban ekonomi orang tua mahasiswa.
“Orang tua tidak hanya menyiapkan biaya transportasi dan biaya hidup anak selama awal kuliah semester genap, tetapi juga masih harus memikirkan biaya mudik Lebaran dan kembali ke Jember setelahnya. Bebannya sangat besar,” kata Kris.
Menurutnya, ide tersebut kemudian disampaikan kepada dekanat dan mendapat respons positif, terutama dari mahasiswa perantau.
“Mereka sangat senang. Banyak yang mengaku sedang dilema, antara pulang atau tidak saat Lebaran Idulfitri nanti,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari dosen Hubungan Internasional, Muhammad Iqbal, yang ikut mendorong gagasan ini hingga akhirnya disetujui dekanat.
“Alhamdulillah diterima,” kata Kris.
Ia menilai, kebijakan ini tidak hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial yang signifikan.
“Mahasiswa jadi lebih tenang dan nyaman, bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga, serta lebih khusyuk menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idulfitri,” katanya.
Dari sisi mahasiswa, kebijakan ini disambut dengan antusias. Thessa Jesay, mahasiswa Kesejahteraan Sosial asal Medan, Sumatra Utara, mengaku sangat terbantu.
“Banyak teman saya yang muslim awalnya berniat tidak mudik karena jadwal kuliah terlalu dekat dengan Lebaran. Dengan kebijakan ini, mereka bisa menikmati Lebaran di rumah bersama keluarga,” ujarnya.
Ia juga menyinggung mahalnya biaya perjalanan.
“Biaya pulang-pergi ke Jember tidak sedikit. Dari Medan ke Jember bisa sampai Rp 5 juta,” katanya.
Meski demikian, Thessa mengingatkan perlunya antisipasi terhadap kendala perkuliahan daring, seperti masalah jaringan dan potensi distraksi di rumah.
Kebijakan diskresi FISIP Universitas Jember ini menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dapat beradaptasi dengan kebutuhan mahasiswa.
Di tengah padatnya kalender akademik dan momentum Lebaran, perkuliahan daring menjadi solusi yang memberi ruang bagi mahasiswa perantau untuk tetap belajar tanpa terbebani perjalanan berulang. *
Editor : Imron Arlado