JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.
Seseorang seringkali membagikan ceritanya ke platform digital mulai dari masalah keluarga, perasaan, aktivitas, hingga masalah pribadi.
Kebiasaan tersebut biasanya disebut dengan oversharing yang kini menjdi fenomena yang patut mendapat perhatian.
Salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan oversharing madalah kebutuhan validasi dan perhatian. Like, komentar dan respons orng lain seringkali memberi rasa diterima dan didengar.
Selain itu, media sosial dijadikan pelarian saat orang tidak memiliki ruang aman untuk bercerita di dunia nyata.
Beberapa orang merasa aman jika bercerita di media sosial daripada bercerita secara langsung kepada orang, apalagi yang kurang dekat dengan mereka.
Oversharing terhadap media sosial ini tentunya dapat menimbulkan dampak negatif. Informai atau cerita yang dibagikan di media sosial akan tersebar dan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Oversharing juga dapat membuat seseorang bergantung pada respons orang lain. Ketika dukungan yang diharapkan tidak datang, rasa kecewa dan rendah diri bisa muncul.
Dengan kesadaran dan control diri, pengguna dapat ttetap mengekspresikan diri tanpa harus mengorbankan privasi. Sebelum membagikan postingan, sebaiknya berpikir dua kali. Apakah ini perlu dan aman untuk dibagikan.
Bijak dalam bermedia sosial bukan berarti menutup diri, melainkan melindungi diri agar tidak terjadi kejadian yang tidak di inginkan. NENSI
Editor : Imron Arlado