Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh menilai peristiwa tersebut telah memenuhi unsur kejadian luar biasa (KLB) dan tidak boleh ditangani secara biasa.
Ayni menegaskan, prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis terbaik, mengingat para pasien tersebar di sejumlah rumah sakit dan puskesmas.
"Yang paling utama, seluruh pasien harus segera mendapatkan perawatan terbaik. Karena korban tersebar di beberapa rumah sakit dan puskesmas, maka koordinasi lintas fasilitas kesehatan harus benar-benar optimal," tegas Ayni Zuroh, Sabtu (10/1) malam.
Pernyataan tersebut disampaikan Ayni usai meninjau langsung penanganan korban di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari serta Posko Layanan Korban Keracunan Massal di Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, didampingi Komisi Kesehatan DPRD Kabupaten Mojokerto.
Ia menyebut DPRD juga telah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti kejadian yang menimpa ratusan siswa dan santri tersebut.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Polres untuk menentukan sebab pastinya. Mudah-mudahan tidak ada korban tambahan," imbuhnya.
Ayni mengaku prihatin karena korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak-anak PAUD hingga pelajar SMA, dan berasal dari sejumlah sekolah serta pondok pesantren. Dengan jumlah korban yang sudah mencapai ratusan, ia menilai kejadian ini patut mendapat atensi khusus dari pemerintah daerah.
"Ini sudah masuk kejadian luar biasa. Dengan korban sebanyak ini, tidak boleh dianggap peristiwa biasa," ujarnya.
Lebih lanjut, Ayni secara tegas mendorong Pemerintah Kabupaten Mojokerto membentuk satuan tugas (satgas) khusus guna melakukan evaluasi menyeluruh dan pengawasan ketat terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Mojokerto.
"Pemkab harus membentuk satgas khusus untuk evaluasi dan monitoring SPPG. Tidak ada alasan soal anggaran, karena penerima manfaat adalah warga Mojokerto sendiri," tegasnya.
Menurut Ayni, keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Itu sejalan dengan tujuan program untuk memberikan asupan makanan yang benar-benar aman dan bergizi.
"Yang paling penting adalah kesehatan anak-anak. Tujuan program ini kan memberi makan yang bergizi, maka keamanan dan kualitasnya harus benar-benar dijamin," pungkasnya.
Sebelumnya, sebanyak 152 siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, pusing, lemas, hingga diare usai mengonsumsi menu MBG. Keluhan terjadi sejak Jumat (9/1).
Keesokan harinya, keluhan para siswa dan santri kian bertambah. Bahkan tak sedikit yang mengalami diare. Para korban dirawat di sejumlah puskesmas dan rumah sakit.
Sementara sebagian lainnya dipusatkan di posko layanan kesehatan di lingkungan pondok pesantren untuk memudahkan penanganan.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian dan menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah