Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ratusan Siswa-Santri di Mojokerto Diduga Keracunan MBG, DPRD Nilai Masuk KLB dan Desak Pemkab Bentuk Satgas Khusus

Fendy Hermansyah • Minggu, 11 Januari 2026 | 02:04 WIB

PANTAUAN WAKIL RAKYAT: Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di posko layanan Ponpes Mahad An Nur di Desa Singowangi, Kutorejo, Sabtu (10/1) malam.
PANTAUAN WAKIL RAKYAT: Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di posko layanan Ponpes Mahad An Nur di Desa Singowangi, Kutorejo, Sabtu (10/1) malam.
KUTOREJO - Dugaan keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 152 siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, mendapat atensi serius dari DPRD Kabupaten Mojokerto.

Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh menilai peristiwa tersebut telah memenuhi unsur kejadian luar biasa (KLB) dan tidak boleh ditangani secara biasa.

Ayni menegaskan, prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis terbaik, mengingat para pasien tersebar di sejumlah rumah sakit dan puskesmas.

"Yang paling utama, seluruh pasien harus segera mendapatkan perawatan terbaik. Karena korban tersebar di beberapa rumah sakit dan puskesmas, maka koordinasi lintas fasilitas kesehatan harus benar-benar optimal," tegas Ayni Zuroh, Sabtu (10/1) malam. 

Pernyataan tersebut disampaikan Ayni usai meninjau langsung penanganan korban di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari serta Posko Layanan Korban Keracunan Massal di Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, didampingi Komisi Kesehatan DPRD Kabupaten Mojokerto.

DESAK BENTUK SATGAS: Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di RSUD Soekandar, Mojosari, Sabtu (10/1) malam.
DESAK BENTUK SATGAS: Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di RSUD Soekandar, Mojosari, Sabtu (10/1) malam.

Ia menyebut DPRD juga telah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti kejadian yang menimpa ratusan siswa dan santri tersebut.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Polres untuk menentukan sebab pastinya. Mudah-mudahan tidak ada korban tambahan," imbuhnya.

Ayni mengaku prihatin karena korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak-anak PAUD hingga pelajar SMA, dan berasal dari sejumlah sekolah serta pondok pesantren. Dengan jumlah korban yang sudah mencapai ratusan, ia menilai kejadian ini patut mendapat atensi khusus dari pemerintah daerah.

"Ini sudah masuk kejadian luar biasa. Dengan korban sebanyak ini, tidak boleh dianggap peristiwa biasa," ujarnya.

Lebih lanjut, Ayni secara tegas mendorong Pemerintah Kabupaten Mojokerto membentuk satuan tugas (satgas) khusus guna melakukan evaluasi menyeluruh dan pengawasan ketat terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Mojokerto.

"Pemkab harus membentuk satgas khusus untuk evaluasi dan monitoring SPPG. Tidak ada alasan soal anggaran, karena penerima manfaat adalah warga Mojokerto sendiri," tegasnya.

Menurut Ayni, keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Itu sejalan dengan tujuan program untuk memberikan asupan makanan yang benar-benar aman dan bergizi.

Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di posko layanan Ponpes Mahad An Nur di Desa Singowangi, Kutorejo, Sabtu (10/1) malam.
Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh memantau penanganan korban keracunan massal di posko layanan Ponpes Mahad An Nur di Desa Singowangi, Kutorejo, Sabtu (10/1) malam.

"Yang paling penting adalah kesehatan anak-anak. Tujuan program ini kan memberi makan yang bergizi, maka keamanan dan kualitasnya harus benar-benar dijamin," pungkasnya.

Sebelumnya, sebanyak 152 siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, pusing, lemas, hingga diare usai mengonsumsi menu MBG. Keluhan terjadi sejak Jumat (9/1).

Keesokan harinya, keluhan para siswa dan santri kian bertambah. Bahkan tak sedikit yang mengalami diare. Para korban dirawat di sejumlah puskesmas dan rumah sakit.

Sementara sebagian lainnya dipusatkan di posko layanan kesehatan di lingkungan pondok pesantren untuk memudahkan penanganan.

Kasus ini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian dan menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. (fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#Keracunan Menu MBG #Keracunan Mojokerto #Sppg mojokerto #keracunan massal #mbg mojokerto