RADAR MOJOKERTO - Fenomena bercerai setelah puluhan tahun kembali hangat diperbincangkan setelah salah satu politikus, Atalia Praratya menggugat sang suami Ridwan Kamil.
Sebelumnya memang sempat bertebaran isu miring soal Ridwan Kamil yang juga sekaligus mantan gubernur Jawa Barat periode 2018-2023 ini.
Berita kurang mengenakkan itu sudah datang sekitar awal 2025 lalu, namun Atalia Praratya dan Ridwan Kamil masih bungkam hingga kabar perceraian keduanya mencuat ke publik. Sidang perceraian keduanya akan diadakan 17 Desember 2025 di Pengadilan Agama Bandung.
Dari gugatan yang akhirnya dilayangkan Dosen dan Anggota DPR Komisi 8 berusia 52 tahun tersebut, lama waktu pernikahan keduanya juga kembali disorot, mengingat usia pernikahan yang sudah memasuki tahun ke 29.
Meski begitu, fenomena perceraian setelah puluhan tahun menikah memang sudah bukan hal baru. Istilah lain dari fenomena ini adalah gray divorce. Kenali lebih lanjut soal gray divorce berikut ini.
Bercerai Setelah Puluhan Tahun Menikah
Gray divorce didefinisikan sebagai perceraian kelabu atau perceraian pasangan yang terjadi saat usia lanjut, setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama puluhan tahun.
Gray divorce mengacu pada pasangan yang berusia diatas 50 tahun.
Menurut salah satu artikel Cleveland Clinic, pada bagian Sex and Relationship, psikolog Chivonna Childs, PhD memaparkan bahwa grey divorce diketahui mengalami peningkatan antara tahun 1970-1990, melonjak dua kali lipat pada 2010 dan terus meningkat hingga sekarang.
Menyimpan Sedikit Banyak Kecewa
Perceraian yang terjadi di usia senja sedikit banyak menyimpan rasa kecewa atau penyesalan.
Bukan tanpa alasan, Dr. Childs memaparkan tentang penyesalan orang yang mengalami gray divorce. Berkaitan dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial yang masih membutuhkan orang lain dan tidak ingin sendirian.
Bagi beberapa orang, kesepian adalah hal yang menakutkan, terlebih saat berada di usia yang tidak lagi muda.
Gray divorce bisa jadi keputusan hitam putih, menjadi mudah bagi sebagian orang, namun bisa jadi lebih sulit dan menimbulkan penyesalan untuk beberapa lainnya.
Lebih lanjut, Dr. Childs dalam artikel berjudul Gray Divorce: Why It Can Happen Later in Life and How to Find Common Ground menyebutkan bahwa keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan matang dari aspek seperti penderitaan dan kesengsaraan mental, perceraian dan sendirian di usia lanjut bukanlah sebuah penyesalan.
Meski demikian, dalam beberapa kasus, alih-alih bercerai, beberapa orang justru memilih berada dalam pernikahan dalam diam yang dirasa lebih mudah.
Pada kondisi tersebut, pasangan masih tetap dalam ikatan pernikahan namun tanpa komunikasi dan menjalani kehidupan terpisah dan seperti hanya sebatas roommates.
Penyebab Gray Divorce
Gray divorce biasanya disebabkan oleh berbagai alasan seperti kondisi perekonomian yang tidak stabil atau adanya perubahan budaya, dan pergeseran makna pernikahan.
Pemicu gray divorce lainnya adalah soal beberapa hal berikut :
- Peningkatan gaya dan harapan hidup, bisa memicu pertengkaran
- Komunikasi memburuk dan tidak adanya koneksi yang bermakna didalamnya
- Pernikahan stagnan
- Hubungan hanya dilakukan sepihak, tanpa timbal balik
- Terjadinya perselingkuhan atau kekerasan secara fisik
- Kelelahan mental dalam pernikahan
- Keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup, mempertimbangkan kesehatan mental, dan pengembangan diri
- Kurangnya kepuasan dalam pernikahan
- Visi dan misi yang sudah tidak sejalan
- Mengalami empty nest syndrome atau perasaan sedih dan hampa saat orang tua ditinggalkan anak-anaknya
Upaya Menghindari Gray Divorce
Pertimbangan untuk memutuskan bercerai saat berusia 40 tahun keatas dengan periode menjalani pernikahan yang sudah terlampau lama memang bukan hal mudah.
Maka dari itu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh pasangan untuk mempertahankan hubungan, salah satunya dengan berusaha membangun koneksi dan komunikasi bersama pasangan.
Membangkitkan atau mengulang momen lama yang menyenangkan juga bisa jadi opsi memperbaiki hubungan meski sudah berada di usia yang tidak muda.
Saat berbagai upaya sudah dilakukan namun belum membuahkan hasil, tak ada salahnya untuk melakukan konseling pernikahan.
Upaya diatas bisa jadi bahan pertimbangan untuk keputusan pernikahan yang akan diambil setelahnya.
Gray Divorce Bukanlah Akhir
Ketika telah melewati berbagai pertimbangan dan akhirnya memutuskan bercerai, lantas kehidupan tidak berakhir begitu saja.
Banyak langkah yang bisa dilakukan setelah melewati fase perceraian dengan usia yang tidak lagi muda.
Setelah bercerai, mungkin beberapa orang akan bersedih dan merasa hampa. Namun tetap berikan waktu diri sendiri untuk menerima semua yang terjadi.
Selepas melewati kondisi tersebut, bangun diri untuk jadi lebih baik, seperti berfokus pada gaya hidup yang lebih sehat, memperhatikan pola makan, dan menjaga tubuh serta kondisi kesehatan mental tetap prima.
Tak ada salahnya juga untuk meluangkan waktu dengan menambah koneksi, melakukan hobi, dan melakukan kegiatan yang diminati.
Editor : Imron Arlado