JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, ada banyak kuliner-kuliner tradisional dari berbagai daerah hingga negara yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial, salah satunya adalah Nem Chua.
Nem Chua muncul sebagai salah satu kuliner dianggap unik, namun memicu reaksi ekstrem karena tampilannya yang unik namun juga tak biasa.
Di balik popularitas Nem Chua yang berkembang pesat akhir-akhir ini, terjadi perdebatan antar warganet yang disebabkan oleh perbedaan sudut pandang.
Sebagian warganet melihat Nem Chua sebagai makanan tradisional yang aman dan menarik, namun sebagian lainnya justru merasa ngeri karena proses penyajiannya menggunakan daging babi mentah yang difermentasi tanpa adanya proses pemasakan.
Perbedaan sudut pandang tersebutlah yang kemudian menciptakan dua kubu besar, yakni kubu yang penasaran dan menganggapnya enak, serta kubu yang mengkhawatirkan kemanan sekaligus higienitasnya.
Dari situlah dapat diketahui bahwa popularitas Nem Chua tak hanya karena rasanya, tetapi juga karena berhasil menciptakan reaksi publik yang kontras dan menarik.
Sementara itu, Nem Chua merupakan makanan tradisional khas Vietnam yang berbahan dasar dari daging babi mentah dan kulit babi cincang yang difermentasi.
Nem Chua umumnya memiliki bentuk atau ukuran kecil seperti camilan yang biasanya dibungkus menggunakan daun pisang atau daun jambu.
Baca Juga: Lima Napi Diusulkan Terima Remisi Natal, Begini Penjelasan Kalapas Mojokerto
Ia juga memiliki karakter rasa beragam yang membuat popularitasnya semakin meningkat, yakni perpaduan antara rasa asam, segar, gurih, sedikit manis, dengan sensasi pedas cabai.
Ciri khas Nem Chua terletak pada tekstur kenyal dan aroma fermentasi yang dianggap unik oleh para penggemar dan penikmat.
Di sisi lain, asal-usul Nem Chua seringkali dikaitkan dengan sebuah wilayah di Vietnam yang terkenal dengan tradisi dan kuliner fermentasi dagingnya, yakni daerah Thanh Hoa.
Sejak dahulu, makanan ini selalu menjadi bagian dari budaya lokal Vietnam dan sering muncul sebagai hidangan di berbagai acara, terutama pada momen perayaan atau acara keluarga.
Seiring berjalannya waktu, Nem Chua semakin tersebar luas ke berbagai daerah, sehingga menghasilkan variasi yang berbeda-beda namun tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai olahan daging babi fermentasi dalam balutan daun.
Umumnya, pembuatan Nem Chua melibatkan perpaduan bahan antara daging giling, kulit babi, bumbu, dan sedikit gula yang kemudian dibentuk menjadi gulungan kecil.
Setelah digulung, Nem Chua akan melalui proses fermentasi selama beberapa hari yang berlangsung di dalam balutan daun hingga menghasilkan cita rasa asam alami.
Tingkat keasaman yang terus mengalami peningkatan selama proses fermentasi akan membentuk tekstur Nem Chua menjadi lebih padat dengan aroma yang juga semakin khas dan kuat.
Dalam pembuatan Nem Chua, pemilihan kualitas bahan dan kebersihan prosesnya menjadi kunci utama untuk menjaga hasil akhirnya agar tetap aman dan terkontrol.
Nem Chua memiliki rasa yang cenderung segar dengan dominasi rasa asam dari proses fermentasi. Ia juga memiliki tekstur kenyal dengan campuran bawang putih dan cabai yang membuat rasanya sedikit pedas.
Baca Juga: Pemalsu STNK di Mojokerto Dituntut 1,5 Tahun Penjara
Yang membuatnya lebih menarik, Nem Chua juga memiliki berbagai varian yang berbeda di setiap daerah.
Contohnya seperti Nem Chua Thanh Hao yang dikenal sebagai varian Nem Chua paling populer dengan cita rasa asam yang kuat.
Ada pula Nem Chua Hue yang cenderung lebih pedas, dan varian Dong Son yang dikenal dengan pembungkusan lebih tebal sehingga aromanya lebih intens.
Variasi-variasi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal menjadi pengaruh terhadap karakter rasa dan penampilan produk.
Di balik popularitasnya sebagai identitas kuliner Vietnam yang berada di posisi makanan tradisional dan kuliner ekstrem yang selalu membuatnya sukses menarik perhatian.
Nem Chua membawa cerita panjang tentang budaya, keunikan rasa, teknik fermentasi, dan keberagaman selera masyarakat yang menyatu dalam satu hidangan.
FANEZA
Editor : Imron Arlado