JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tagar #SaveTessoNilo mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Publik dibuat tersentuh sekaligus prihatin atas kondisi habitat satwa liar tersebut kian terdesak oleh alih fungsi lahan.
Taman Nasional Tesso Nilo, yang terletak di Riau, dikenal sebagai salah satu hutan hujan tropis terkecil namun kaya akan keanekaragaman hayati Indonesia, hutan ini juga sekaligus menjadi rumah bagi para gajah Sumatera yang terancam punah.
Tagar #SaveTessoNilo bukan hanya sekedar tren yang muncul di platform digital saja, melainkan panggilan darurat agar perhatian publik dan pemerintah tertuju pada nasib hutan dan penghuninya.
Kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) tidak bisa dianggap remeh. Dari total sekitar 83.000 hektare lahan konservasi, kini hanya sebagian kecil yang masih berupa hutan alami. Lahan lainnya telah dialih fungsikan menjadi kebun kelapa sawit.
Kerusakan ini bukan hanya mengancam kelestarian hutan hujan tropis saja, tetapi juga keselamatan satwa-satwa langka yang hidup di dalamnya. Salah satunya adalah Gajah Sumatera, yang kini seringkali terlihat keluar dari kawasan konservasi akibat habitatnya semakin sempit dan terganggu. Dalam beberapa kasus, konflik antara gajah dan manusia semakin meningkat karena satwa tersebut masuk ke dalam pemukiman warga untuk mencari makanan, bahkan ada yang menggambarkan kondisi gajah kurus dan lemah akibat kekurangan pakan.
Fenomena ini semakin mendorong publik untuk menyuarakan kepedulian melalui tagar #SaveTessoNilo di berbagai platform media sosial. Ribuan pengguna internet, mulai dari aktivis lingkungan, selebritas, hingga masyarakat umum, beramai-ramai membagikan foto, infografis, dan cerita yang menyentuh mengenai kerusakan hutan dan nasib Gajah Sumatera.
Tagar ini juga merupakan bentuk seruan nyata untuk mendesak pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk melakukan tindakan tegas dalam menyelamatkan ekosistem yang kian kritis. Tren digital ini berkembang dengan cepat, bahkan masuk ke jajaran trending topic nasional. Hal ini menandakan bahwa isu lingkungan kini semakin relevan bagi Gen-Z dan milenial, ini membuktikan bahwa kekuatan media sosial dapat menjadi gerakan perubahan.
Gerakan #SaveTessoNilo menjadi simbol solidaritas publik, menunjukkan bahwa penyelamatan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga kepedulian bersama. Melalui kampanye ini, masyarakat diajak untuk lebih peduli, serta mendukung kelestarian hutan, dan menjadi nagian dari solusi agar Tesso Nilo tetap menjadi rumah bagi para gajah dan satwa liar lainnya.
Natasia Reyna
Editor : Imron Arlado