JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di era media sosial yang serba cepat, rasa takut dinilai atau Fear of People’s Opinions (FOPO) semakin banyak dialami oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda yang tumbuh dalam budaya digital.
FOPO muncul ketika seseorang terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihat dirinya, sehingga pendapat eksternal menjadi tolok ukur utama dalam mengambil keputusan.
Fenomena ini bukan hanya membuat seseorang merasa cemas, tetapi juga dapat membatasi ruang gerak dan perkembangan diri. Dengan tekanan untuk selalu tampil sempurna, banyak orang tanpa sadar membangun identitas berdasarkan ekspektasi publik, bukan pada keinginan pribadi.
Media sosial memperkuat FOPO melalui sistem yang berfokus pada validasi, seperti jumlah suka, komentar, dan interaksi. Ketika unggahan menjadi ruang penilaian, seseorang terdorong untuk terus menampilkan citra ideal.
Perbandingan dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna menjadikan seseorang merasa kurang. Padahal, apa yang tampak online hanyalah potongan kecil dari realitas yang sudah dipoles.
Meski demikian, tekanan visual ini sering kali lebih kuat daripada kesadaran bahwa dunia digital penuh konstruksi. Akibatnya, banyak orang merasa harus menghindari kesalahan dan hanya menunjukkan sisi terbaik demi menghindari kritik.
Dalam kehidupan nyata, FOPO dapat terlihat melalui perilaku ragu berbicara, takut mencoba hal baru, atau menunda keputusan penting. Ketika seseorang merasa pendapat orang lain lebih penting daripada kebutuhannya sendiri, ia bisa kehilangan arah dan tujuan.
FOPO juga berpotensi memperburuk stres, menurunkan kepercayaan diri, dan menghambat pembentukan jati diri. Pada beberapa kasus, ketakutan ini berkembang menjadi kecemasan sosial yang lebih serius serta mempengaruhi hubungan personal maupun profesional.
Penyebab FOPO tidak hanya berasal dari media sosial. Pengalaman masa kecil, pola asuh, lingkungan kompetitif, serta budaya yang menuntut kesempurnaan turut membentuk pola pikir yang selalu ingin diterima.
Bahkan dalam dunia kerja, FOPO dapat membuat seseorang enggan menyampaikan ide atau menunjukkan potensi karena takut salah. Dalam pertemanan, ketakutan ini bisa mendorong seseorang menyesuaikan diri secara berlebihan demi diterima oleh kelompoknya.
Semua ini menunjukkan bahwa FOPO adalah bagian dari dinamika psikologis yang kompleks dan berakar pada kebutuhan manusia untuk diakui. Untuk mengurangi FOPO, langkah awal adalah menyadari bahwa pendapat orang lain tidak menentukan nilai diri.
Mengurangi intensitas penggunaan media sosial dapat membantu menciptakan jarak sehat dari tekanan digital. Selain itu, fokus pada tujuan pribadi dan proses yang sedang dijalani akan membangun kepercayaan diri yang lebih stabil.
Menerima ketidaksempurnaan diri, menulis jurnal, serta berlatih membuat keputusan mandiri juga dapat membantu mengembalikan kontrol atas hidup. Dukungan dari orang terdekat dapat menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki perjalanan unik yang tidak perlu dibandingkan.
Pada akhirnya, FOPO mungkin tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi dapat dikelola dengan pemahaman dan kesadaran diri yang lebih kuat. Ketika seseorang menempatkan kebahagiaan pribadi di atas ekspektasi publik, tekanan untuk selalu terlihat sempurna perlahan menghilang. AILEEN
Editor : Imron Arlado