JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Chuseok, atau yang sering disebut sebagai Korean Thanksgiving Day, merupakan salah satu hari raya terbesar di Korea Selatan.
Dirayakan setiap tanggal 15 bulan ke-8 dalam kalender lunar, momen ini dianggap sebagai hari pengucapan syukur atas hasil panen yang melimpah.
Bagi masyarakat Korea, Chuseok bukan sekadar hari libur panjang, tetapi juga saat yang memuat nilai, budaya, dan kebersamaan keluarga.
Tidak heran, setiap tahunnya suasana Korea tampak lebih hangat, meriah, dan penuh tradisi yang memesona.
Ketika Chuseok tiba, jutaan warga Korea melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman.
Fenomena ini disebut “Chuseok travel rush”, di mana jalan tol dipenuhi kendaraan hingga menimbulkan kemacetan panjang.
Tiket kereta cepat KTX, bus antar kota, hingga pesawat dapat habis terjual berminggu-minggu sebelum hari perayaan.
Meski perjalanan panjang sering melelahkan, masyarakat Korea sangat menantikan momen-momen ini.
Baca Juga: Libur Panjang Akhir Tahun, Pemesanan Melonjak
Bagi mereka, pulang kampung bukan hanya rutinitas, melainkan kesempatan berharga untuk berkumpul dengan orang tua, kakek-nenek, dan keluarga besar yang jarang ditemui.
Suasana rumah menjadi lebih hangat dengan obrolan, tawa, dan hidangan khas yang tersaji di meja makan.
Mudik saat Chuseok juga menjadi simbol nilai hyo (bakti), yaitu rasa hormat dan tanggung jawab anak kepada orang tua, yang merupakan nilai penting dalam budaya Korea.
Inti perayaan Chuseok terletak pada tradisi charye, yaitu upacara penghormatan kepada leluhur yang dilakukan pada pagi hari perayaan.
Keluarga menyiapkan meja penuh makanan seperti ikan, buah-buahan, daging, dan songpyeon.
Setiap hidangan memiliki aturan penempatan yang jelas, mencerminkan nilai harmoni dan tata krama yang telah diwariskan sejak ribuan tahun lalu.
Dalam upacara ini, keluarga melakukan penghormatan melalui membungkuk atau berdoa sebagai bentuk rasa terima kasih atas perlindungan dan keberkahan yang diterima.
Ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan cerminan rasa hormat mendalam terhadap hubungan antar generasi.
Selain charye, masyarakat Korea juga melakukan seongmyo, yaitu berziarah ke makam leluhur. Mereka membersihkan area makam dan mempersembahkan doa.
Aktivitas ini mengajarkan nilai kesederhanaan, penghormatan, serta pelestarian hubungan antara keluarga.
Baca Juga: Glamping Bersama Keluarga saat Liburan, Momen Quality Time di Alam Bebas
Salah satu daya tarik terbesar Chuseok adalah hidangan tradisional yang menggugah selera. Setiap makanan bukan sekadar santapan, tetapi juga simbol harapan dan makna budaya.
- Songpyeon
Kue beras berbentuk bulan sabit ini adalah ikon Chuseok. Songpyeon dibuat dari tepung beras yang diisi dengan kacang, wijen, atau kacang merah.
Proses pembuatannya sering dilakukan bersama anggota keluarga, terutama ibu dan anak perempuan.
Ada pepatah yang mengatakan, “Songpyeon yang dibuat dengan hati gembira akan menghasilkan masa depan yang cerah.”
- Jeon
Jeon adalah pancake gurih yang dibuat dari campuran daging, sayuran, atau seafood. Jeon sering disajikan dalam berbagai bentuk, seperti kimchi jeon, pajeon, dan hobak jeon.
- Galbijjim
Hidangan iga sapi yang dimasak dengan kecap, bawang putih, dan sayuran ini menjadi menu favorit saat keluarga besar berkumpul.
- Hangwa
Kue tradisional berwarna-warni yang terbuat dari tepung beras dan madu. Hangwa melambangkan kemanisan dan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga.
Selama masa liburan Chuseok, berbagai tempat wisata, desa tradisional, dan istana kerajaan mengadakan festival budaya untuk merayakan hari besar ini.
Wisatawan lokal dan internasional dapat merasakan langsung kehangatan tradisi Korea melalui berbagai pertunjukan dan kegiatan menarik.
Tarian tradisional seperti ganggangsullae, tarian melingkar yang biasanya dilakukan oleh para perempuan sambil menyanyi, menjadi salah satu atraksi yang paling terkenal. Tarian ini dipercaya membawa keberkahan dan kebahagiaan.
Selain itu, ada pertunjukan musik seperti samulnori, permainan alat musik perkusi yang ritmis dan energik, serta drama rakyat yang menggambarkan legenda dan cerita masa lampau.
Baca Juga: 18 Non-ASN Bersiap Demo Pemkot
Meskipun akar Chuseok sangat tradisional, perayaan di era modern telah mengalami sejumlah perubahan.
Banyak keluarga muda yang memilih melakukan staycation, jalan-jalan, atau liburan singkat untuk melepas penat.
Mall dan pusat perbelanjaan biasanya memberikan diskon besar dan dekorasi bertema Chuseok yang menarik.
Generasi muda Korea juga sering berbagi momen Chuseok melalui media sosial, mulai dari foto songpyeon buatan sendiri hingga acara keluarga.
Bahkan para idola K-pop turut mengunggah ucapan Chuseok kepada penggemar, menambah kemeriahan suasana.
Chuseok bukan hanya soal makanan lezat atau liburan panjang. Lebih dari itu, perayaan ini mengajarkan nilai-nilai penting seperti:
- Rasa syukur atas hasil panen dan kehidupan
- Kebersamaan keluarga dan hubungan antar generasi
- Penghormatan kepada leluhur dan tradisi
- Pelestarian budaya dan tradisi rakyat
Nilai-nilai inilah yang membuat Chuseok tetap relevan dan terus dirayakan dengan penuh antusiasme hingga sekarang.
NIYA
Editor : Imron Arlado