Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gegep atau Felice Gabriel Anak Angkat Dewi Persik Sekarang Taruna AKMIL, Saat Penuh Harapan dan Kebanggaan

Imron Arlado • Senin, 1 Desember 2025 | 01:56 WIB

 

Momen Dewi Persik haru sambut putranya Gegep sebagai taruna Prabhatar Akademi TNI.
Momen Dewi Persik haru sambut putranya Gegep sebagai taruna Prabhatar Akademi TNI.

Jawa Pos Radar Mojokerto - Isak haru dan bangga tidak terjadi di atas panggung, tetapi di kursi penonton saat upacara berlangsung. Dewi Perssik, yang selama ini selalu dikenal dengan sorotan lampu dan tepuk tangan dari penonton, malah menangis dalam keheningan acara. Ia melihat putranya, Felice Gabriel, yang ia panggil “Mas Gabriel” melangkah ke fase baru sebagai taruna Akademi Militer (AKMIL), dunia yang benar-benar berbeda dari kilauan glamor yang melingkupinya.

Acara pengukuhan yang terjadi pada 28 November 2025 itu bukan sekadar perayaan kelulusan, tetapi juga simbol perubahan identitas, dari anak yang dibesarkan dalam lingkungan artis menjadi seorang pemuda yang berkomitmen pada pengabdian kepada bangsa. Gegep, nama panggilan masa kecil Felice, mengenakan Pakaian Dinas Upacara I (PDU I) Sabuk Silang, seragam yang lebih dari sekadar tanda status, melainkan juga representasi sebuah janji kedewasaan. Ia berdiri tegak, wajahnya menunjukkan kepastian. Namun, di barisan penonton, Dewi hadir sebagai ibu yang penuh perasaan, bukan sebagai seorang bintang.

Berbeda dari banyak laporan yang menyoroti tema “kelolosan” dan “kebanggaan akan seragam,” momen ini sebenarnya berkaitan dengan aspek yang jarang dijelaskan, peralihan dari cinta yang bersifat pribadi ke cinta yang bersifat publik. Dewi memandang anaknya bukan seperti kamera yang merekam, tetapi seperti memori yang menyusun album kenangan.

Di sudut matanya, tergambar perjalanan yang dimulai lama sebelum hari wisuda tersebut. Ia membesarkan Gabriel sejak balita, saat tantangan dalam hidupnya belum sepenuhnya berakhir. Dari sanalah, ia menciptakan tempat pertumbuhan yang bebas dari kebisingan media, tetapi dipenuhi dengan doa. Bagi Dewi, menjadi seorang ibu lebih dari sekadar gelar, melainkan sebuah tindakan.

Dalam unggahannya, ia menyampaikan pesan kebanggaan yang mengalir seperti doa yang diucapkan perlahan “Bangga padamu Mas Gabriel, bismillah barokallah. Anakku, tarunaku yang kuat…” Kata-kata ini mungkin muncul di berbagai judul berita, tetapi tidak semua dapat menangkap kedalaman emosi di baliknya rasa bangga yang muncul dari keyakinan untuk “menjaga,” bukan karena keinginan untuk “menonjol di depan umum. ”

Yang menjadikan momen ini spesial adalah esensi pesan yang disampaikan “Jangan pernah tinggalkan salat dimanapun berada. ” Di tengah cerita tentang kehidupan di barak, lagu-lagu mars, dan disiplin AKMIL, pesan spiritual inilah yang menjadi inti dialog antara ibu dan anak.

Ini bukan tentang mengklaim religiusitas di hadapan publik, melainkan menegaskan bahwa identitas iman akan tetap menjadi pegangan saat identitas sosial berubah. Ia tidak berpesan agar Gabriel menjadi “taruna terbaik” tetapi “taruna yang tetap utuh sebagai manusia. ” Ada pergeseran nilai, dari sekadar prestasi yang bersifat kompetitif, menjadi komitmen moral yang bersifat kolektif.

Banyak berita menggambarkan air mata Dewi sebagai ekspresi bangga seorang ibu. Namun sebenarnya, air mata itu adalah persimpangan antara dua realitas, melepaskan dan mempercayakan. Ia menyerahkan Gabriel kepada negara, sembari menitipkannya kepada Tuhan. Ia memeluk bukan untuk menahan agar tetap di sampingnya, tetapi untuk menegaskan bahwa pulang sejati seorang anak adalah kembali kepada nilai-nilai yang benar.

Momen ini mengandung pelajaran berharga bagi generasi digital, bahwa kelulusan bukan sekadar akhir dari pendidikan, tetapi awal bagi pembuktian karakter. Bahwa menjadi bagian dari AKMIL tidak berarti meninggalkan jati diri, melainkan membawa tiga bekal utama,iman, adab, dan amanah. Di antara ribuan wisudawan yang ada setiap tahun, kisah ini menonjol bukan karena siapa ibunya, melainkan cara seorang ibu mencintai dan mempersiapkan anaknya menghadapi masa depan. Okta

Editor : Imron Arlado
#Akmil #Taruna Akademi Militer #dewi persik #taruna #pengukuhan