JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Laut adalah ruang misterius yang memukau sekaligus menakutkan.
Di satu sisi, ia menyajikan panorama keindahan yang menenangkan disisi lain, laut menyimpan kedalaman gelap yang penuh teka-teki.
Tidak semua orang merasa nyaman berada di dekat lautan, terlebih ketika berhadapan dengan bagian laut yang dalam, gelap, dan tak terjamah.
Rasa takut inilah yang dikenal sebagai thalassophobia, sebuah kondisi yang jarang dibicarakan meski dialami oleh banyak orang.
Thalassophobia berasal dari bahasa Yunani yakni thalassa yang berarti “laut” dan phobos yang berarti “ketakutan”.
Istilah ini merujuk pada ketakutan intens terhadap laut luas, kedalaman tak terlihat, atau makhluk yang mungkin hidup di dalamnya.
Berbeda dengan rasa takut biasa, thalassophobia hadir sebagai kecemasan ekstrem yang dapat muncul bahkan saat melihat gambar laut dalam atau membayangkan berada di atas permukaan laut yang gelap.
Meski laut tampak tenang di permukaan, bagian terdalamnya adalah dunia lain yang menyimpan banyak misteri. Tidak mengherankan jika sebagian orang merasa tidak nyaman atau takut.
Beberapa faktor yang membuat laut dalam terasa menakutkan antara lain:
- Ruang Gelap dan Tak Terlihat
Kedalaman laut dipenuhi kegelapan total pada titik tertentu. Ketidakmampuan melihat apa yang berada di bawah permukaan memicu kecemasan karena otak manusia terbiasa mencari kepastian visual.
- Ketidakpastian dan Misteri
Lebih dari 80% lautan dunia belum dieksplorasi, sehingga manusia tidak tahu pasti apa saja yang ada di bawah sana. Ketidakpastian ini menjadi pemicu utama fobia.
- Rasa Tidak Berdaya
Berada di tengah laut berarti berada jauh dari daratan, tidak memiliki kendali atas arus, kedalaman, atau situasi darurat. Perasaan tidak berdaya dapat memperkuat ketakutan.
- Evolusi dan Naluri Bertahan Hidup
Beberapa penelitian menyatakan bahwa manusia secara naluriah menghindari perairan gelap karena leluhur kita mempersepsikannya sebagai tempat berbahaya.
Thalassophobia tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat memicunya:
- Pengalaman Traumatis
Tenggelam, hampir tenggelam, terseret arus, atau kejadian buruk lainnya di laut bisa menimbulkan ketakutan jangka panjang.
- Pengaruh Lingkungan dan Media
Film-film seperti Jaws, dokumenter tentang hewan laut besar, atau cerita-cerita horor tentang lautan dapat menanamkan ketakutan berlebihan.
- Faktor Genetik dan Psikologis
Orang yang memiliki kecenderungan cemas atau memiliki riwayat fobia tertentu dalam keluarga lebih mudah mengalami thalassophobia.
- Pembelajaran Sosial
Mendengar cerita menakutkan tentang laut dari orang lain, terutama sejak kecil, dapat memicu fobia.
Menariknya, fenomena thalassophobia semakin sering dibahas sejak berkembangnya internet.
Banyak orang menyadari bahwa mereka memiliki ketakutan ini setelah melihat gambar-gambar viral seperti:
- Kedalaman samudra yang gelap
- Kapal karam
- Siluet ikan raksasa di air
- Objek besar misterius di bawah permukaan
Media sosial seperti TikTok dan Reddit bahkan memiliki komunitas khusus yang membahas thalassophobia.
Konten visual yang memperlihatkan betapa kecilnya manusia dibandingkan lautan membuat lebih banyak orang merasa relate.
Banyak orang menganggap ketakutan terhadap laut hanyalah hal kecil atau rasa tidak nyaman biasa. Karena itu, thalassophobia sering tidak dianggap serius.
Padahal, bagi penderitanya, ketakutan ini bisa sangat nyata dan mengganggu. Kurangnya edukasi dan stigma mengenai fobia membuat banyak orang enggan mengakui atau mencari bantuan.
Thalassophobia adalah ketakutan intens dan sering kali tidak rasional terhadap laut dalam. Meski terlihat sepele, kondisi ini dapat mengganggu kehidupan seseorang dan memicu kecemasan yang cukup parah.
NIYA
Editor : Imron Arlado