Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menelusuri Hagia Sophia, Sebuah Simbol Pertemuan Dua Peradaban Besar

Imron Arlado • Rabu, 26 November 2025 | 01:15 WIB
Di Istanbul, Turki, terdapat salah satu bangunan bersejarah paling ikonik dan berpengaruh di dunia, yaitu Hagia Sophia. Sumber foto: Google
Di Istanbul, Turki, terdapat salah satu bangunan bersejarah paling ikonik dan berpengaruh di dunia, yaitu Hagia Sophia. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di Istanbul, Turki, terdapat salah satu bangunan bersejarah paling ikonik dan berpengaruh di dunia, yaitu Hagia Sophia.

Sebuah bangunan yang tak hanya ikonik, tetapi juga membawa jejak panjang sejarah dan perubahan identitas selama berabad-abad.

Hagia Sophia juga dijuluki sebagai "bangunan tiga nyawa" karena perjalanan fungsinya yang berubah-ubah.

Mulai dari menjadi katedral Kristen Ortodoks, beralih menjadi masjid pada era Ottoman, kemudian berubah lagi menjadi sebuah museum pada abad ke-20, dan kembali menjadi masjid pada tahun 2020 hingga saat ini.

Setiap fase perubahan fungsi Hagia Sophia menghadirkan lapisan cerita baru yang membuatnya menjadi ikon Istanbul serta titik temu berbagai budaya dan keyakinan.

Pembangunan Hagia Sophia dimulai pada tahun 532 masehi di bawah naungan pemerintahan Kaisar Justinianus I dari Kekaisaran Byzantium.

Mulanya pembangunan Hagia Sophia dipicu oleh keinginan menghadirkan simbol kebesaran kekaisaran sekaligus membangun kembali katedral yang sebelumnya hancur karena kerusuhan.

 

Proses konstruksi bangunan ikonik Hagia Sophia ini dilakukan oleh para arsitek terkemuka, termasuk Anthemius dari Tralles dan Isidore dari Miletus.

Kehadiran para arsitek terkemuka tersebut menjadi bukti nyata kemampuan teknik dan ambisi spiritual yang besar Kekaisaran Byzantium.

Tak hanya kisah dan makna di baliknya, arsitektur bangunan Hagia Sophia juga menjadi salah satu bagian yang paling memukau.

Salah satu arsitektur Hagia Sophia yang sangat menonjol adalah penampilan kubah raksasa yang tampak melayang di atas ruangan utama.

Tak berhenti di situ, desain bangunan ikonik ini juga memadukan antara elemen-elemen Romawi dengan Bizantium yang kemudian menghasilkan struktur inovatif pada masanya.

Interior bangunan Hagia Sophia dipenuhi dengan pola mozaik emas, pilar marmer, dan tata ruang yang luas sekaligus megah sehingga menghadirkan kesan agung bagi siapapun yang melangkah masuk.

Pada masa awal berdirinya, di mana Hagia Sophia berfungsi sebagai katedral terbesar di dunia Kristen Ortodoks, bangunan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, politik, dan simbol keagungan spiritual Kekaisaran Byzantium.

Dinding-dinding Hagia Sophia dihiasi oleh pola-pola mozaik dengan kubah yang menggambarkan Yesus, para malaikat, dan tokoh-tokoh suci lainnya yang digambarkan dengan gaya ikonografi Bizantium yang khas.

Selama hampir seribu tahun, Hagia Sophia mempertahankan fungsi dan statusnya sebagai pusat ibadah sekaligus kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Kristen Ortodoks pada masa itu.

Namun, perubahan besar kemudian terjadi setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453.

Hagia Sophia yang awalnya merupakan sebuah katedral Kristen Ortodoks berubah menjadi salah satu masjid paling signifikan dalam dunia agama Islam.

Beberapa menara ditambahkan di dalam bangunan Hagia Sophia untuk melengkapi fungsinya sebagai tempat adzan.

 

Selain itu, ada pula penambahan beberapa kaligrafi besar yang berisi nama Allah, Nabi Muhammad, khalifah-khalifah utama yang menghiasi bagian dalam Hagia Sophia namun tetap mempertahankan unsur Bizantium.

Perubahan fungsi bangunan ini masih berlanjut hingga menjadi sebuah museum pada tahun 1935.

Pemerintahan Turki modern mengubah Hagia Sophia menjadi museum sebagai upaya memisahkan identitas negara dari simbol-simbol religius.

Status baru Hagia Sophia ini membuka kesempatan bagi dunia untuk melihat serta mengeksplorasi warisan dua budaya yang sebelumnya tersembunyi.

Pola-pola mozaik Bizantium yang awalnya ditutup pada masa Ottoman mulai dipulihkan dan diperlihatkan kembali kepada publik.

Kemudian pada tahun 2020 lalu, keputusan untuk mengubah Hagia Sophia kembali menjadi sebuah masjid menjadi tanda babak baru dalam sejarahnya.

Meski digunakan kembali sebagai tempat ibadah umat Islam, Hagia Sophia tetap terbuka luas bagi seluruh wisatawan yang ingin mempelajari dan menjaga nilai sejarahnya.

Hagia Sophia menyimpan berbagai nilai besar sebagai simbol keterikatan panjang antara Timur dan Barat, serta antara Islam dan Kristen.

Bangunan ini tak hanya dinilai dari sisi arsitekturnya yang sangat memukau, tetapi juga dari identitasnya sebagai titik temu antara dua tradisi besar.

 

Keindahan pola mozaik, megahnya kubah, dan perpaduan elemen antara dua agama memberikan pengalaman unik yang jarang didapat dari bangunan lain.

Selain itu, Hagia Sophia jugs menjadi cermin perjalanan sejarah panjang Istanbul yang terus berubah-ubah namun tetap mempertahankan warisan pentingnya.

FANEZA

Editor : Imron Arlado
#bangunan #perubahan #bersejarah #turki #arsitektur #hagia sophia #interior #fungsi #istanbul #Kekaisaran Byzantium #sejarah #katedral #islam #kristen ortodoks #Ottoman #Bizantium #masjid #arsitek terkemuka #Kaisar Justinianus I #museum #bangunan tiga nyawa