Pernah mendapati seseorang memilih diam, menghindar, bahkan menghilang saat berkonflik? Sikap tersebut seringkali dijumpai dan menjadi jalan terbaik bagi beberapa orang yang melakukannya.
Namun ternyata sikap tersebut bisa jadi pertanda bahwa seseorang memiliki kepribadian avoidant attachment. Apakah itu?
Definisi Avoidant Attachment
Berdasarkan artikel Simply Psychology, avoidant attachment diartikan sebagai pola seorang individu dalam melindungi dirinya dengan menarik diri dan menjauhi kedekatan secara emosional.
Perilaku ini juga meremehkan kedekatan hubungan karena cenderung mementingkan diri sendiri dengan menghindari dari masalah yang ada.
Avoidant sama dengan Red Flag?
Avoidant attachment tidak sepenuhnya masuk dalam kategori red flag. Namun perlu dimengerti bahwa saat seorang avoidant sudah tidak memiliki kejelasan secara berlebih, melakukan ghosting, kerap menghindari komunikasi dan komitmen, maka dalam kondisi itu avoidant telah masuk dalam ranah red flag.
Meski berkedok sebagai strategi perlindungan atas diri sendiri, namun perilaku avoidant yang tidak segera disadari dan diatasi bisa menjadi bumerang di masa mendatang dan mengganggu hubungan seseorang avoidant dengan sekitarnya.
Ciri Avoidant Attachment
Tak hanya sebagai skrining untuk mengetahui apakah ada sosok avoidant di sekitar kita, ciri berikut bisa diidentifikasi untuk diri sendiri agar lebih dini memahami apakah ada perilaku avoidant yang perlu diperbaiki.
1. Pandangan skeptis dan negatif terhadap orang lain
Seorang avoidant cenderung memikirkan kemungkinan terburuk, sehingga tidak heran jika pikiran negatif bersarang dalam dirinya.
Bukan tanpa alasan, pelaku avoidant meminimalisir rasa sakit dan penolakan sehingga memilih muatan pikiran negatif dan skeptis sebagai bentuk pertahanan dari kesakitan yang mungkin terbentuk atas ekspektasinya.
2. Terlalu mandiri
Seorang avoidant biasanya mendominasi, entah saat sendiri atau saat diluaran. Pemilik sifat ini merasa bahwa orang lain tidak bisa diandalkan lebih baik dari dirinya sendiri.
Pada akhirnya, seorang avoidant terbentuk menjadi sosok yang terlalu mandiri dan tidak bergantung pada siapapun.
3. Memendam emosi
Pola asuh tidak responsif saat kecil bisa memicu ketidakpekaan dan emosi terkesan sepele. Dengan kata lain, pola asuh memberikan dampak pada peredaman emosi secara sadar maupun tidak agar tidak berujung pada penolakan dan menimbulkan kekecewaan saat diungkapkan.
Lebih dari itu, penekanan emosi juga berdampak pada kurangnya empati dan menyebabkan kesulitan menjalin komunikasi yang baik dengan sekitar.
4. Menghindari komitmen dan konflik
Jika seseorang tidak memberikan kejelasan mengenai keterikatan pada sebuah hubungan atau memilih untuk menggantung konflik dengan melakukan penghindaran, maka hal tersebut bisa jadi indikasi perilaku avoidant.
Perlindungan terhadap sakit secara emosional dan anggapan kebebasan yang akan hilang saat seseorang berada dalam sebuah komitmen atau kedekatan tertentu membuat seorang avoidant enggan memilih kejelasan dan memilih kabur dari konflik.
5. Kurangnya empati
Sisi rasional seorang avoidant biasanya lebih besar daripada emosinya sehingga permasalahan terkait emosi terkesan diabaikan dan tampak seperti tidak berempati.
Padahal sebenarnya, seorang avoidant hanya terlalu memendam emosi dalam dirinya untuk menghindari kesakitan secara emosional.
Penyebab Avoidant
Avoidant attachment biasanya dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya trauma pengalaman masa lalu yang melibatan penolakan, pengabaian, dan kekecewaan emosional.
Selain itu, pola pengasuhan berperan penting dalam pengelolaan emosi sehingga tak jarang seorang avoidant merasa abai terhadap emosi karena sedari kecil tidak terlatih untuk mengendalikan dan merasakan emosi lebih mendalam.
Baca Juga: Antisocial Personality Disorder, Gangguan Kepribadian dengan Kurangnya Empati dan Sifat Manipulatif
Dampak Avoidant
Meski diiringi dengan dalih perlindungan diri dari rasa sakit, namun memelihara sikap avoidant ternyata bisa mengakibatkan hal-hal yang berdampak negatif seperti berikut ini.
1. Sulit membentuk dan mempertahankan hubungan emosional
2. Kesulitan berinteraksi sosial
3. Berpotensi melakukan perilaku berisiko seperti seks bebas, self harm, penggunaan obat-obatan terlarang, dan konsumsi alkohol berlebihan
4. Mengalami stress, burnout, atau overwhelm
Cara Mengatasi Perilaku Avoidant
Mengatasi perilaku atau sifat avoidant dibutuhkan adanya kesadaran untuk dapat berubah dan lebih membuka diri.
Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mengatasi avoidant attachment adalah dengan membangun relasi aman dan konsisten, masuk ke dalam komunitas yang mendukung perubahan diri, tentunya dengan mempertimbangkan lingkungan positif di dalamnya.
Editor : Imron Arlado