JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Cilacap/Banjarnegara, Tim gabungan dari BPBD Jawa Tengah, TNI, Polri, dan relawan terus melanjutkan upaya evakuasi pascalongsor yang melanda wilayah Cilacap dan Banjarnegara, menyusul hujan deras yang menyebabkan runtuhnya tebing pada awal November.
Hingga saat ini, sejumlah warga masih dilaporkan hilang, sementara petugas berusaha membuka akses dan menyisir area yang tertimbun lumpur menggunakan alat berat. Pemerintah provinsi kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan mengingat potensi longsor susulan yang masih tinggi.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Lokasi Terpencil
Proses pencarian korban berjalan tersendat karena kondisi tanah yang masih labil serta hujan berintensitas tinggi yang terus mengguyur dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah titik longsor berada di area perbukitan yang sulit dijangkau, sehingga tim penyelamat kerap harus mengandalkan peralatan manual saat alat berat tidak dapat diarahkan ke lokasi.
Komandan tim SAR gabungan menyebutkan bahwa prioritas saat ini adalah membuka akses jalan, menjaga keselamatan seluruh personel, dan mempercepat penyisiran terhadap korban yang diduga masih tertimbun material.
Untuk mendukung kebutuhan warga, dapur umum dan posko kesehatan turut didirikan di beberapa titik pengungsian.
Kerusakan Meluas, Warga Terpaksa Mengungsi
Dampak longsor terasa cukup signifikan bagi warga di sejumlah desa di Cilacap dan Banjarnegara. Selain rumah yang rusak hingga tertimbun, jaringan air bersih dan listrik juga sempat terputus di beberapa lokasi.
Banyak keluarga terpaksa menetap di tempat pengungsian sambil menanti kepastian relokasi atau perbaikan hunian mereka.
Beberapa warga mengaku kehilangan harta benda, lahan pertanian, hingga hewan ternak akibat bencana tersebut.
Para petani pun cemas karena lahan garapan mereka untuk sementara tidak dapat digunakan, tertutup endapan lumpur yang cukup tebal.
Respons Pemerintah dan Rencana Pemulihan
Pemerintah provinsi maupun kabupaten telah menyalurkan bantuan logistik tahap awal, mulai dari makanan, selimut, tenda darurat, hingga layanan dukungan psikososial bagi para penyintas.
Di samping penanganan darurat, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah pemulihan jangka panjang.
Baca Juga: Mengenal Fenomena FOMO dan FOPO di Era Media Sosial yang Membentuk Pola Perilaku Generasi Modern
BPBD Jawa Tengah menjelaskan bahwa wilayah terdampak memang berada di zona rawan longsor yang telah lama dipetakan.
Karena itu, upaya mitigasi ke depan akan difokuskan pada edukasi kepada warga, pemantauan lereng menggunakan sistem peringatan dini, serta rencana relokasi bagi permukiman yang berada tepat di bawah tebing atau berada di wilayah dengan kemiringan ekstrem.
Potensi Longsor Susulan Jadi Kekhawatiran
BMKG mengingatkan bahwa curah hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa hari mendatang.
Pemerintah daerah pun mengimbau warga yang tinggal di sekitar lereng dan kawasan perbukitan untuk meningkatkan kewaspadaan, serta segera mengungsi apabila muncul tanda-tanda longsor seperti retakan tanah atau suara gemeretak dari arah tebing.
Selain itu, posko informasi telah dibuka untuk membantu warga melaporkan anggota keluarga yang hilang, memperoleh bantuan logistik, maupun mengakses data resmi terkait perkembangan situasi di lapangan.
Baca Juga: Home Industry Sepatu di Dusun Karangsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko Terbakar
Upaya evakuasi dan pencarian korban longsor di Cilacap dan Banjarnegara akan terus dilakukan hingga seluruh area terdampak dinyatakan aman dan seluruh warga terdata dengan lengkap.
Di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi, pemerintah meminta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, sementara proses pemulihan fisik maupun psikologis para penyintas terus diprioritaskan guna mengurangi dampak jangka panjang dari bencana ini. BINTANG PURNAMA.
Editor : Imron Arlado