Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenal Fenomena FOMO dan FOPO di Era Media Sosial yang Membentuk Pola Perilaku Generasi Modern

Imron Arlado • Minggu, 23 November 2025 | 21:28 WIB
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi ruang yang bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, perilaku, dan cara seseorang menilai dirinya. sumber foto: google
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi ruang yang bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, perilaku, dan cara seseorang menilai dirinya. sumber foto: google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi ruang yang bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, perilaku, dan cara seseorang menilai dirinya.

Dua fenomena psikologis yang semakin menonjol dalam kehidupan masyarakat modern adalah FOMO atau Fear of Missing Out dan FOPO atau Fear of People’s Opinions. Keduanya muncul sebagai dampak dari lingkungan digital yang serba cepat, penuh tekanan sosial, dan dipenuhi perbandingan yang sulit dihindari.

Meski terlihat sederhana, fenomena ini dapat mempengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan menjalani kesehariannya. FOMO menggambarkan rasa takut tertinggal dari orang lain.

Saat seseorang melihat unggahan teman-temannya yang tampak selalu produktif, bahagia, atau sukses, timbul perasaan seolah hidupnya tidak cukup menarik. Media sosial memunculkan ilusi bahwa orang lain selalu berada selangkah lebih maju.

Akibatnya, muncul dorongan untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan hanya agar tidak merasa ketinggalan tren. Banyak orang akhirnya memaksakan diri membeli barang yang tidak dibutuhkan, menghadiri acara yang tidak diinginkan, atau mengikuti gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan mereka.

Berbeda dengan FOMO, FOPO berfokus pada ketakutan terhadap penilaian orang lain. Fenomena ini membuat seseorang ragu mengekspresikan diri atau mengambil keputusan sederhana karena terlalu khawatir mendapat komentar negatif.

Dalam banyak kasus, FOPO membuat individu merasa harus tampil sempurna agar diterima lingkungan. Ketakutan ini dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari mengunggah foto, berbicara di depan umum, sampai menentukan hal penting yang berkaitan dengan masa depan.

 

 

Ketika seseorang terlalu peduli dengan pendapat orang lain, ia dapat kehilangan keberanian untuk tampil apa adanya. FOMO dan FOPO seringkali saling berkaitan. Ketika seseorang mengalami FOMO, ia terdorong mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal.

Di sisi lain, FOPO membuat seseorang takut berbeda dan memilih mengikuti arus demi diterima. Kombinasi keduanya menciptakan tekanan psikologis yang berkelanjutan. Banyak orang merasa harus selalu aktif, kreatif, dan sempurna, padahal hal tersebut melelahkan secara mental.

Tanpa disadari, perbandingan terus-menerus dapat mengikis rasa percaya diri dan membuat seseorang sulit menghargai hidupnya sendiri.Dampak dari fenomena ini cukup signifikan. FOMO dapat menimbulkan kecemasan, stres, dan ketidakpuasan terhadap pencapaian pribadi.

Sementara FOPO dapat menghambat potensi, membuat seseorang takut berkembang, dan menjauhkan dirinya dari jati diri. Jika tidak dikendalikan, keduanya dapat mempengaruhi kesehatan mental serta kualitas hidup.

Untuk mengatasi tekanan tersebut, penting bagi seseorang menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan terbaik dari kehidupan orang lain.

 

 

Mengurangi konsumsi konten, menikmati kegiatan tanpa perlu membagikannya, dan fokus pada proses diri sendiri dapat membantu mengurangi tekanan sosial. Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan diri secara berlebihan.

Dengan memahami nilai diri, menetapkan batasan, dan hidup sesuai prinsip pribadi, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, autentik, dan bermakna. AILEEN

 

Editor : Imron Arlado
#FOPO #psikologi #Lingkungan Digital #fomo #kesehatan mental #fear of missing out #era digital