Adi Dwi Purwanto salah satu warga mengungkapkan peristiwa putusnya jembatan ini terjadi saat debit sungai meningkat drastis. Hujan yang berlangsung lama dan deras merata membuat arus air kian deras hingga terjadi erosi. ''Pondasi yang sebelumnya sudah ambrol akhirnya kembali jebol, bahkan mengakibatkan jembatan putus total,'' ungkapnya.
Tak sekedar konstruksi utama jembatan yang mengalami anjlok hingga ke dasar sungai, kuatnya arus air membuat pondasi yang menjadi penguat jembatan atau sayap kiri dan kanan turut ambrol. Bahkan sayap sisi barat turut terbawa aliran sungai. ''Kalau bronjong yang timur masih ada cuma jembatannya dari sisi barat dan timur jebol,'' tegasnya.
Seluruh badan jembatan sepanjang 10 meter dan lebar 3 meter yang melintang di atas Sungai Wonodari ambrol. Sejumlah matererial jembatan tampak berada di dasar sungai dengan kedalaman sekitar 5 meter dari permukaan jalan.
''Beberapa hari yang lalu sempat diperbaiki dan bisa dilewati kembali baik R 2 maupun R4 kecil, tapi sekarang sudah tidak bisa,'' jelasnya.
Peristiwa putusnya jembatan ini langsung direspon cepat dinas terkait. Plt Kadis PUPR Kabupaten Mojokerto Anik Mutammima Kurniawati dan Kabid Bina Marga Henri Surya langsung turun ke lokasi melakukan pemantauan dan mengamankan.
''Kami saat ini di lokasi untuk melakukan penutupan akses agar tidak sampai ada warga yang mendekat,'' ungkap Anik.
Dibantu warga, dinas memberikan tanda sebagai pengamanan. Menurutnya, putusnya jembatan darurat ini terjadi karena memang ada peningkatan debit air seiring hujan deras yang berlangsung lama di kawasan hulu dan sekitarnya.
''Derasnya air menyebabkan terjadinya erosi. Akhirnya pondasi jembatan darurat yang sebelumnya dibangun tidak kuat dan ambrol,'' tegasnya.
Sebagai penanganan lebih lanjut dan terukur, dinas PUPR bakal melakukan koordinasi dengan pimpinan. Termasuk jika memungkinkan dilakukannya penanganan darurat lagi agar ke depan kembali bisa dilalui masyarakat. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah