JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di Tiongkok, ada salah satu suku yang identitasnya terbentuk dari sejarah panjang pencampuran budaya, yakni suku Hui yang dikenal sebagai etnis muslim terbesar di Tiongkok.
Lahirnya komunitas suku hui ini dipicu dari interaksi antara pedagang Arab, Persia, dan Asia Tengah yang datang melalui Jalur Sutra, lalu berbaur dengan warga lokal Tiongkok sejak masa dinasti-dinasti awal.
Hasil dari akulturasi atau interaksi antar budaya tersebutlah yang akhirnya membentuk kelompok masyarakat yang tetap beragama islam namun memiliki budaya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari khas Tiongkok.
Secara demografis, suku Hui telah tersebar hampir di seluruh wilayah Tiongkok, dengan jumlah atau konsentrasi terbesar di Ningxia Hui Autonomous Region.
Selain Ningxia, komunitas besar suku Hui juga tersebar di berbagai wilayah Tiongkok lainnya seperti Gansu, Qinghai, Shaanxi, Yunan, Xinjiang bagian tertentu, hingga kota besar seperti Beijing dan Chengdu.
Persebarannya yang luas ini membuat kebudayaan suku Hui tumbuh dengan warna-warni lokal yang sangat beragam namun tetap mempertahankan identitas utamanya sebagai komunitas muslim terbesar di Tiongkok.
Sebagai etnis muslim terbesar di Tiongkok, suku Hui jelas memiliki beberapa ciri khas, yakni mulai dari fondasi utama, bahasa, kuliner, busana, arsitektur, kehidupan sosial, dan tradisi yang sangat menarik untuk dipelajari.
Di suku Hui, fondasi utama yang membentuk cara hidup atau rutinitas hariannya seperti pola makan halal hingga tata cara hidup sosialnya adalah ajaran agama Islam.
Meski begitu, penerapan tradisi keagamaan seperti kebiasaan merayakan hari-hari besar agama Islam juga dilakukan dengan cara yang tetap mempertahankan unsur lokal, sehingga dapat terlihat sangat serasi dengan budaya Tiongkok.
Baca Juga: Pemadaman Akan Menyasar Beberapa Wilayah Berikut untuk Penggantian Tiang Beton Listrik yang Patah
Perpaduan tersebutlah yang kemudian menciptakan gaya keberagaman yang sangat khas, di mana norma agama Islam tetap berjalan dengan lancar tanpa harus kehilangan sentuhan budaya Tiongkok yang telah melekat selama berabad-abad.
Meski fondasi utama cara hidup mereka adalah ajaran agama Islam, penggunaan bahasa sehari-hari di suku Hui tetap menggunakan bahasa mandarin sebagai bahasa utama.
Melalui penggunaan ini, memperlihatkan betapa kuatnya hubungan masyarakat suku Hui dengan masyarakat Tiongkok pada umumnya.
Akan tetapi, penggunaan istilah-istilah yang menggunakan campuran antara bahasa Arab dan Persia juga tetap diterapkan, terutama terkait dengan kegiatan keagamaan.
Selain penggunaan bahasa, ciri khas lain dari suku Hui adalah kuliner luar biasa yang menjadi salah satu identitas paling kuat milik etnis muslim ini.
Hidangan mereka terkenal dengan penggunaan daging halal, terutama daging kambing dan sapi, serta racikan bumbu khas Tiongkok bagian utara.
Teknik memasak hidangan khas suku Hui juga tak kalah menarik karena menggabungkan antara tradisi Islam dengan cita rasa lokal yang kemudian menciptakan banyak makanan yang berhasil dikenal luas oleh masyarakat Tiongkok.
Beberapa hidangan populer khas suku Hui adalah Lanzhou Lamian, mie yang sangat terkenal melalui proses pembuatannya yang ditarik langsung dengan tangan, dan Yangrou Paomo, sebuah sup kambing hangat yang dihidangkan dengan roti pipih khas.
Keberadaan hidangan halal khas suku Hui ini juga dianggap sebagai salah satu cara memperkenalkan budaya muslim Tiongkok kepada masyarakat luas karena kuliner mereka mudah ditemui di seluruh kota besar.
Tak berhenti di situ, ciri khas lain dari suku Hui yang menonjol adalah gaya busananya yang memperlihatkan perpaduan harmonis antara nilai-nilai Islam dengan standar estetika Tiongkok.
Baca Juga: Jadwal Pemadaman Listrik Jumat 21 November 2025 yang Akan Menyasar Beberapa Wilayah Berikut
Dalam acara adat atau perayaan hari tertentu, busana tradisional suku Hui terlihat lebih jelas.
Dengan perpaduan antara warna-warna lembut, potongan longgar, dan motif sederhana, seakan menggambarkan perpaduan budaya yang matang.
Setiap elemen busana suku Hui mencerminkan bagaimana mereka mempertahankan nilai Islam sembari tetap menjadi bagian dari lingkungan budaya Tiongkok.
Arsitektur suku Hui juga menjadi salah satu ciri khas paling menonjol, terutama bangunan masjid yang menjadi simbol kuat akulturasi budaya.
Tak sedikit bangunan masjid-masjid tua di wilayah-wilayah Hui berdiri dengan tampilan luar yang tampak seperti kuil Tiongkok, lengkap dengan bentuk atap melengkung, ukiran kayu, dan warna khas arsitektur tradisional Tiongkok.
Meski eksteriornya sangat kental dengan kebudayaan Tiongkok, bagian dalam masjid di suku Hui tetap mengikuti prinsip-prinsip arsitektur Islam.
Salah satu contoh paling terkenal dari masjid suku Hui adalah Masjid Niujie di Beijing yang menunjukkan sejarah panjang hubungan antara Islam dan budaya Tiongkok.
Hadirnya suku Hui menjadi bukti nyata bahwa suatu identitas dapat terbentuk dari pertemuan panjang dua dunia yang berbeda namun saling melengkapi.
Keberadaan suku Hui yang tersebar luas juga membuat budaya Hui tak hanya dikenal sebagai warisan sejarah, melainkan sebagai bagian aktif dari kehidupan modern Tiongkok.
FANEZA
Editor : Imron Arlado