Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Di Balik Kilau Putih Gigi dan Senyum yang Rapih, Ini Dia Resiko Penggunaan Veener Gigi yang Jarang Tersorot

Imron Arlado • Rabu, 19 November 2025 | 00:40 WIB
Saat ini, fenomena veneer gigi semakin berkembang di dunia kecantikan sebagai tren instan yang menawarkan perubahan tanpa proses yang lama. Sumber foto: Google
Saat ini, fenomena veneer gigi semakin berkembang di dunia kecantikan sebagai tren instan yang menawarkan perubahan tanpa proses yang lama. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Saat ini, fenomena veneer gigi semakin berkembang di dunia kecantikan sebagai tren instan yang menawarkan perubahan tanpa proses yang lama.

Tak sedikit orang, terutama dari kalangan atas, yang tertarik karena veneer gigi menawarkan hasil menawan yang bisa terlihat langsung, khususnya untuk memperbaiki warna atau bentuk gigi.

Namun, seiring dengan lonjakan popularitasnya, mulai muncul berbagai macam cerita mengenai pengalaman seseorang atas dampak buruk penggunaan veneer yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Dalam situasi ini, media sosial berperan aktif menjadi wadah bagi banyak pengguna yang membagikan pengalaman buruknya, mulai dari bau mulut, hingga masalah gusi yang terus berulang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa di balik tampilan senyuman yang indah dan rapi, terdapat resiko yang kerap kali tidak disadari sejak awal.

Berbagai pengalaman buruk yang dialami pengguna veneer gigi umumnya terjadi karena adanya kesalahan prosedur saat pemasangan veneer.

Kondisi ini muncul ketika veneer dilakukan di tempat yang tidak memiliki standar medis yang jelas atau abal-abal, termasuk klinik yang tidak memiliki dokter gigi profesional di dalamnya.

 

 

Beberapa kesalahan prosedur pemasangan yang seringkali menimbulkan pengalaman buruk bagi pengguna adalah proses pengikiran gigi terlalu dalam sehingga dapat merusak struktur atau tatanan alami gigi.

Pemasangan veneer yang tidak presisi juga dapat menimbulkan celah kecil antara veneer dan gigi asli.

Celah tersebutlah yang kemudian menjadi titik awal munculnya berbagai keluhan, terutama penumpukan sisa makanan dan bakteri.

Situasi seperti inilah yang memperlihatkan bahwa hasil akhir veneer gigi sangat bergantung pada teknik dan keahlian orang yang mengerjakannya.

Sementara itu, dampak negatif penggunaan veneer gigi yang saat ini ramai diperbincangkan baik di media sosial maupun percakapan langsung adalah bau mulut.

Dampak yang satu ini biasanya muncul ketika veneer tidak menempel secara sempurna, ada bagian yang terlalu menonjol atau tidak presisi sehingga menciptakan celah kecil yang sulit dibersihkan.

Selain itu, pada sebagian pengguna, lapisan resin atau pelindung yang tidak dirapikan juga dapat menahan sisa-sisa makanan.

Celah kecil dan lapisan resin yang tidak rapi menjadi tempat di mana sisa-sisa makanan sekaligus bakteri berkumpul menjadi satu dan menghasilkan aroma yang tidak sedap.

Selain bau mulut, kesalahan prosedur pemasangan veneer gigi juga berdampak pada gusi yang menjadi mudah meradang dan bengkak.

Kondisi ini bisa muncul karena bentuk veneer yang terlalu besar atau tidak mengikuti kontur alami gigi yang menyebabkan tekanan terus-menerus pada jaringan gusi, sehingga kesehatan gusi menjadi lebih sensitif dan lebih mudah terkena iritasi.

Gejala yang biasanya muncul dalam kondisi ini adalah gusi berubah warna menjadi lebih merah, bengkak, dan memunculkan rasa sakit atau tidak nyaman saat minum dan makan.

Dalam beberapa kasus, kondisi pembengkakan gusi akibat pemasangan veneer dapat berubah menjadi hal yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

 

 

Kerusakan gigi asli atau irreversible damage setelah pemasangan veneer juga menjadi salah satu kekhawatiran besar.

Hal tersebut dikarenakan gigi asli yang sudah dikikir tak bisa kembali lagi seperti semula, sehingga dalam jangka panjang, kondisi ini membuat kesehatan gigi lebih rentan.

Saat gigi dikikir, lapisan gigi yang melindungi saraf juga menjadi lebih tipis sehingga menimbulkan tingkat sensitivitas yang berlebihan.

Perubahan ini biasanya muncul akibat pengikiran gigi yang terlalu dalam atau tidak memperhatikan struktur gigi asli.

Pengguna yang mengalami hal ini biasanya akan merasakan sensasi ngilu ketika mengonsumsi makanan atau minuman yang panas dan dingin.

Veneer gigi juga memiliki masa pakai tertentu dan tidak bisa dipakai selamanya tanpa adanya pembaruan atau perawatan ulang.

Dalam beberapa tahun, veneer harus diganti atau diperbaiki, terutama jika terjadi masalah perubahan warna, atau pergeseran posisi, untuk menghindari masalah yang lebih serius.

Fenomena veneer gigi ini menunjukkan bagaimana tren kecantikan instan memberi hasil akhir yang sangat menawan namun terdapat dampak dan resiko yang lebih kompleks di baliknya.

 

 

Kesadaran akan dampak atau resiko ini mampu membuka ruang berpikir bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih klinik, dokter, atau rumah sakit dan mempertimbangkan kesehatan jangka panjang sebelum mengikuti tren ini.

FANEZA

Editor : Imron Arlado
#kesalahan prosedur pemasangan #Resiko #kerusakan gigi asli #irreversible damage #tren kecantikan #pembengkakan gusi #Instan #masa pakai #bau mulut #dampak buruk #dampak negatif #veneer gigi