Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Viral Cerita Pilu di TikTok: Menolak Dijodohkan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Imron Arlado • Senin, 17 November 2025 | 00:45 WIB

 

Menolak perjodohan menjadi dimusuhi keluarga sendiri
Menolak perjodohan menjadi dimusuhi keluarga sendiri

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Belakangan ini, sebuah video dari akun TikTok @ndeiap menjadi viral dan menimbulkan perbincangan luas di media sosial Indonesia.

Dalam video unggahannya, pemilik akun membagikan pengalaman saat ia memutuskan untuk menolak dijodohkan oleh keluarganya. Penolakan terhadap tradisi perjodohan ini tidak hanya menjadi penyebab perselisihan yang dialaminya, tetapi juga berakibat pada permusuhan dengan keluarganya sendiri.

Fenomena ini mencerminkan beban sosial dan emosional yang dialami banyak orang, di mana mereka harus dihadapkan pada pilihan pasangan hidup secara tradisional tanpa kemampuan untuk menentukan keinginan mereka sendiri.

 

 

Menurut para psikolog, penolakan terhadap sistem perjodohan yang dipaksakan sangat berpengaruh pada kesehatan mental, terutama ketika dukungan dan kasih sayang dari keluarga kurang atau bahkan tidak ada. Efek psikologis negatif yang mungkin muncul meliputi stres, kecemasan, dan perasaan terasing dalam lingkungan keluarga.

Psikolog Pingkan C. B. Rumondor dari Universitas Bina Nusantara menjelaskan bahwa banyak orang di luar sana yang masih kesulitan untuk menerima keputusan anak yang menolak jodoh yang dipilih oleh orang tua mereka, meskipun niat orang tua adalah untuk memberikan yang terbaik pada sang anak.

Situasi ini sering kali menciptakan ketegangan yang dapat mengarah pada perpisahan baik secara sosial maupun emosional dalam sebuah keluarga, selain itu, jika sikap saling menerima dan terbuka diterapkan sejak awal, maka hubungan akan lebih mudah dipelihara meskipun keputusan tidak sesuai dengan tradisi.

 

 

Dukungan dari keluarga memiliki peranan yang teramat penting dalam menjaga kesehatan mental anak, terutama berkenaan dengan kebebasan memilih pasangan hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang menikah dengan suka cita dan berdasarkan cinta biasanya memiliki keharmonisan yang lebih baik dalam keluarga dibandingkan dengan mereka yang terpaksa menerima perjodohan, rasa paksaan ini dapat menyebabkan konflik batin yang serius dan menyebabkan keretakan hubungan dalam keluarga yang bertahan lama.

Video @ndeiap secara nyata mengangkat permasalahan ini dan menarik simpati dari banyak pengguna internet yang memberikan dukungan moral serta menekankan mengenai betapa pentingnya menghargai kebebasan individual dalam mengambil keputusan hidup, termasuk dalam hal pernikahan.

 

 

Kasus ini mengingatkan keluarga dan masyarakat luas bahwa kasih sayang dan pengertian lebih penting daripada paksaan yang dapat merusak hubungan serta kesehatan mental, pada akhirnya, setiap individu memiliki hak untuk menentukan kebahagiaan mereka sendiri.

Kesehatan mental yang optimum, dukungan penuh kasih dari keluarga, dan penghormatan terhadap kebebasan memilih adalah fondasi utama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan bermakna, keluarga yang mendukung kebebasan ini dapat menjadi ruang aman yang membangun rasa percaya dan kenyamanan emosional. Dzafir Kirana Adelia

Editor : Imron Arlado
#dan #Pengertian #perjodohan #keluarga #menikah #anak #tradisional #kasih sayang #kesehatan mental