Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Air Mata dan Harapan di Layar: Tinjauan Film Sampai Titik Terakhirmu

Imron Arlado • Jumat, 14 November 2025 | 02:58 WIB
Film “Sampai Titik Terakhirmu” menyentuh perasaan dengan cerita nyata tentang cinta yang tulus yang bertahan di tengah pertarungan melawan penyakit kanker.
Film “Sampai Titik Terakhirmu” menyentuh perasaan dengan cerita nyata tentang cinta yang tulus yang bertahan di tengah pertarungan melawan penyakit kanker.

Jawa Pos Radar Mojokerto - Film “ Sampai Titik Terakhirmu ” lebih dari sekedar narasi cinta. ini adalah gambaran ketahanan dua individu yang mencintai satu sama lain hingga akhir hayat.

Disutradarai oleh Dinna Jasanti, film ini menampilkan penampilan Mawar Eva de Jongh dan Arbani Yasiz sebagai pasangan nyata Shella Selpi Lizah dan Albi Dwizky. Keduanya harus menghadapi kenyataan pahit menghadapi kanker ovarium pada tahap lanjut yang mengancam hubungan mereka.

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang viral di media sosial, kini diolah menjadi film layar lebar yang sarat dengan makna dan emosi. Dengan durasi sekitar dua jam, film ini menggabungkan unsur romansa, realisme, dan drama kehidupan dengan sangat mengesankan. 

Penampilan Mawar de Jongh sebagai Shella menjadi jiwa dari film ini. Dia berhasil menampilkan karakter perempuan muda yang lemah namun mempunyai keteguhan. tatapan, senyum, dan isak tangisnya sangat tulus dan menyentuh.

Di sisi lain, Arbani Yasiz menunjukkan kekuatan sebagai Albi, sosok pria sederhana yang mencintai dengan tulus tanpa pamrih. Interaksi di antara mereka terasa sangat alami, membuat penonton terbawa emosi di setiap adegan.

Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika Albi memangkas rambut Shella setelah efek kemoterapi mulai terlihat. Tanpa perlu banyak dialog, adegan tersebut sudah cukup untuk meruntuhkan ketahanan emosi penonton.

Dari segi sinematografi, film ini menampilkan gaya yang lembut dan minim. Warna-warna hangat mendominasi, menghasilkan suasana yang nyaman meskipun tema yang ditinggikan cukup berat. Pengambilan gambar close-up seringkali ditampilkan untuk menampilkan ekspresi dan hubunganemosional antara dua tokoh utama.

Latar musik dari Nadhif Basalamah dengan lagu “Bergema Sampai Selamanya” memperkuat suasana. Melodinya lembut, tetapi sangat menyentuh jiwa membawa penonton untuk ikut merasakan perjalanan cinta mereka.

Film ini mengingatkan kita bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersatu selamanya, tetapi tentang kesetiaan yang mendampingi hingga akhir. Pesan tersebut tersampaikan dengan jelas dalam setiap dialog, terutama saat Shella mengungkapkan bahwa ''cinta bukan tentang lamanya, tetapi seberapa dalam kita menjalaninya''.

 

 

Tidak terdapat melodrama yang berlebihan atau twist plot yang mencengangkan. Justru kekuatan film ini terletak pada penjelasan dan kejujuran emosinya. Penonton diajak untuk memikirkan makna kehilangan, keberanian, dan ketulusan yang melampaui batas waktu.

Kelebihan

Kekurangan

Sampai Titik Terakhirmu merupakan film yang menyentuh perasaan bukan hanya karena kesedihan, tetapi juga karena kejujurannya dalam menggambarkan cinta dalam bentuk yang paling murni. Ini lebih dari sekadar tontonan ini adalah pengalaman emosional yang mendorong kita untuk memikirkan arti “memendampingi” seseorang hingga akhir.

Film ini ideal untuk siapa pun yang percaya bahwa cinta sejati tidak akan terjadimati, melainkan bertransformasi, dari pelukan menjadi kenangan, dari kehadiran menjadi doa. Okta

Editor : Imron Arlado
#kisah nyata #Albi dan Shella #review #Sampai Titik Terakhirmu