Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bukan Stroke! Kenali Bell’s Palsy, Kondisi yang Mirip Tapi Berbeda

Imron Arlado • Rabu, 12 November 2025 | 22:53 WIB
Ketika seseorang tiba-tiba mengalami kelumpuhan di satu sisi wajahnya. Sumber Foto: Pinterest
Ketika seseorang tiba-tiba mengalami kelumpuhan di satu sisi wajahnya. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ketika seseorang tiba-tiba mengalami kelumpuhan di satu sisi wajahnya, banyak orang langsung panik dan mengira itu adalah gejala stroke.

Padahal, tidak semua kelumpuhan wajah disebabkan oleh stroke. Ada kondisi lain yang sering disalah artikan sebagai stroke, yaitu Bell’s Palsy.

Meskipun gejalanya sekilas tampak mirip, Bell’s Palsy memiliki penyebab, mekanisme, dan penanganan yang berbeda.

Bell’s Palsy adalah kondisi kelumpuhan atau kelemahan mendadak pada otot-otot wajah akibat gangguan pada saraf fasialis.

Saraf ini berfungsi mengontrol pergerakan otot wajah, seperti saat kita tersenyum, menutup mata, atau mengerutkan dahi.

Kondisi ini biasanya hanya menyerang satu sisi wajah, dan membuat penderitanya sulit menggerakkan bagian tersebut.

Wajah terlihat menurun di satu sisi, kelopak mata sulit menutup, dan senyum menjadi tidak simetris. 

Gejala Bell’s Palsy bisa muncul secara tiba-tiba, biasanya dalam waktu beberapa jam saja. Beberapa tanda yang umum antara lain:

  1.       Wajah tampak menurun di satu sisi.
  2.       Sulit menutup salah satu mata.
  3.       Air liur menetes karena kesulitan mengontrol mulut.
  4.       Kehilangan kemampuan mencicipi rasa pada bagian depan lidah.
  5.       Nyeri ringan di sekitar rahang atau belakang telinga.
  6.       Sensitivitas terhadap suara di satu telinga meningkat.

Meskipun tampak serius, kebanyakan kasus Bell’s Palsy bersifat sementara dan dapat sembuh total dalam waktu beberapa minggu hingga bulan, terutama dengan pengobatan dan terapi yang tepat.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Bell’s Palsy antara lain:

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, terutama pada fungsi saraf wajah.

Sebagian besar penderita Bell’s Palsy dapat pulih sepenuhnya dalam 3 hingga 6 bulan. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi peradangan, meringankan gejala, dan mempercepat pemulihan saraf.

Baca Juga: Suzuki Satria Pro dan F150 Diluncurkan, Fitur Lebih Cangguh dengan Harga Kompetitif

Tidak ada cara pasti untuk mencegah Bell’s Palsy, karena penyebab pastinya belum diketahui. Namun, menjaga sistem imun tetap kuat dapat membantu menurunkan risiko. Hal ini bisa dilakukan dengan:

  1.       Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  2.       Istirahat cukup dan mengelola stres
  3.       Menghindari paparan udara dingin secara langsung ke wajah

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke karena gejalanya yang mirip yakni kelumpuhan di satu sisi wajah.

 

Baca Juga: Desa Mojokumpul, Kecamatan Kemlagi Jadikan Taman Sekumpul Mojo Ruang Edukasi lewat Gertambusur

 

Namun, keduanya berbeda secara mendasar. Bell’s Palsy disebabkan oleh gangguan pada saraf wajah, bukan oleh kerusakan otak.

Meskipun bisa membuat penderitanya khawatir, kabar baiknya adalah kebanyakan kasus Bell’s Palsy dapat sembuh total dengan pengobatan yang tepat dan perawatan rutin.

Jadi, ketika wajah mendadak terasa lemah, tetap tenang, segera konsultasikan ke dokter, dan jangan langsung panik mengira itu stroke.

NIYA 



Editor : Imron Arlado
#penyebab #cara penanganan #kondisi wajah #bells palsy #gejala #kelumpuhan wajah