JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di ketinggian Gunung Bromo yang megah, tersimpan sebuah tradisi suci yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Suku Tengger.
Tradisi itu dikenal sebagai Upacara Yadnya Kasada, sebuah bentuk persembahan yang penuh makna spiritual kepada Sang Hyang Widhi sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan.
Setiap tahun, ribuan umat Hindu Tengger berkumpul di kawasan lautan pasir Bromo untuk melaksanakan ritual ini, menciptakan pemandangan yang memukau dan sarat nilai budaya.
Upacara Kasada berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan leluhur masyarakat Tengger. Dikisahkan, setelah bertahun-tahun menikah tanpa keturunan, mereka memohon kepada para dewa agar diberi anak.
Permintaan itu dikabulkan dengan satu syarat: anak bungsu mereka harus dikorbankan ke kawah Bromo sebagai tanda bakti. Dari 25 anak yang lahir, pasangan itu menolak menyerahkan yang bungsu, Kesuma, hingga akhirnya sang anak secara sukarela melompat ke kawah.
Sejak saat itulah, masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasada setiap tahun untuk mengenang pengorbanan tersebut dan menunjukkan ketaatan kepada para dewa.
Puncak upacara biasanya berlangsung pada hari ke-14 bulan Kasada dalam penanggalan Hindu Tengger, yang jatuh sekitar Juni hingga Juli. Ritual dimulai dari Pura Luhur Poten di tengah Lautan Pasir Bromo, tempat umat berdoa dan membawa berbagai persembahan.
Setelah prosesi doa, para pemangku adat dan warga naik menuju Kawah Bromo untuk melemparkan sesajen berupa hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, beras, ayam, hingga uang ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan dan rasa syukur.
Menariknya, upacara ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga atraksi budaya yang mendunia. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang untuk menyaksikan momen langka ini.
Meski begitu, bagi masyarakat Tengger, Kasada bukanlah sekadar tontonan. Ia merupakan perwujudan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, yang menjadi inti ajaran hidup mereka.
Selain persembahan, terdapat pula prosesi spiritual lainnya seperti pemilihan Dukun Pandita, pemimpin upacara adat yang dipercaya mampu menjaga keseimbangan spiritual masyarakat. Gelar ini tidak diwariskan secara turun-temurun, melainkan dipilih melalui tanda-tanda khusus dan kesucian pribadi seseorang.
Upacara Kasada juga memperlihatkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kesetiaan, dan pengorbanan, yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tengger.
Dalam kesunyian gunung yang berkabut, nyala obor, doa, dan nyanyian mantra menciptakan suasana sakral yang menghubungkan manusia dengan alam semesta.
Melalui Kasada, Suku Tengger tidak hanya menjaga warisan leluhur mereka, tetapi juga meneguhkan jati diri dan keyakinan bahwa keseimbangan hidup dapat tercapai bila manusia hidup dengan rasa syukur dan hormat terhadap alam.
Ritual ini menjadi bukti nyata bahwa di balik keindahan Gunung Bromo, tersimpan kekayaan budaya dan spiritual yang tak ternilai di sebuah persembahan abadi bagi Sang Hyang Widhi dari puncak bumi Jawa Timur. AILEEN
Editor : Imron Arlado