JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam era modern yang serba cepat, banyak orang cenderung memilih makanan instan karena dianggap praktis dan menyenangkan.
Namun, di balik kepraktisan itu, tersembunyi berbagai risiko kesehatan akibat kandungan minyak berlebih, lemak, hingga penurunan kualitas gizi.
Disisi lain, ada satu cara memasak sederhana yang justru mampu mempertahankan nilai gizi makanan sekaligus menyehatkan tubuh, yaitu mengukus.
Metode mengukus ini merupakan salah satu metode memasak yang dikenal hampir seluruh orang.
Tidak seperti menggoreng atau memanggang yang melibatkan suhu tinggi dan minyak, mengukus hanya memanfaatkan uap panas air.
Proses ini membantu menjaga kandungan vitamin, mineral, dan enzim alami pada bahan makanan agar tidak rusak.
Misalnya, sayuran seperti brokoli, wortel, atau bayam yang dikukus akan tetap berwarna cerah dan tidak kehilangan vitamin C serta antioksidannya.
Begitu juga dengan ikan atau ayam kukus yang tetap lembut, juicy, dan kaya protein tanpa tambahan lemak dari minyak.
Salah satu keunggulan utama dari makanan kukusan adalah tidak memerlukan minyak goreng.
Hal ini otomatis mengurangi asupan lemak jenuh yang dapat memicu berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, hipertensi, dan penyakit jantung.
Selain itu, tanpa minyak, makanan kukusan terasa lebih ringan di perut dan cocok dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk anak-anak, lansia, atau mereka yang sedang menjalani program diet sehat.
Bagi mereka yang ingin menjaga bentuk tubuh, serta pola makan, makanan kukusan merupakan sahabat terbaik.
Karena proses memasaknya tidak menambah kalori ekstra, makanan ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan asupan nutrisi.
Sebagai contoh, satu porsi ayam kukus hanya mengandung sebagian kecil kalori dibandingkan ayam goreng, namun tetap mengenyangkan.
Ditambah sayuran kukus, tubuh akan mendapatkan asupan serat yang membantu pencernaan dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
Makanan yang dikukus umumnya lebih lembut dan mudah dicerna. Hal ini sangat bermanfaat bagi orang yang memiliki masalah pencernaan, maag, atau gangguan lambung.
Proses pengukusan juga menghindarkan terbentuknya zat berbahaya seperti akrilamida, yaitu senyawa yang dapat muncul saat makanan digoreng pada suhu tinggi dan berpotensi memicu kanker.
Mengukus tidak memerlukan banyak peralatan atau bahan tambahan. Cukup dengan panci kukus atau alat kukus listrik, siapapun bisa membuat berbagai hidangan sehat di rumah.
Selain hemat energi, metode ini juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah minyak bekas yang sulit terurai.
Kini, dengan berbagai inovasi alat masak modern seperti steamer listrik atau multi cooker, proses mengukus menjadi semakin cepat dan mudah dilakukan bahkan untuk pemula.
Banyak yang mengira makanan kukusan terasa hambar, padahal dengan sedikit kreativitas, hidangan ini bisa sangat lezat.
Contohnya, nasi tim ayam, pepes ikan, siomay, puding kukus, atau dimsum. Semuanya dimasak dengan cara dikukus dan memiliki cita rasa yang menggugah selera.
Penambahan bumbu alami seperti daun jeruk, jahe, atau serai bisa memperkaya aroma dan rasa tanpa perlu banyak garam atau penyedap buatan.
Mengukus bukan sekadar teknik memasak, tetapi juga langkah kecil menuju pola makan yang lebih baik.
Dengan rutin mengkonsumsi makanan kukusan, tubuh akan mendapatkan manfaat jangka panjang seperti sistem pencernaan yang lebih sehat, kadar kolesterol yang lebih stabil, dan daya tahan tubuh yang meningkat.
Menerapkan pola makan sehat tidak selalu membutuhkan biaya mahal atau peralatan canggih.
Cukup dengan cara sederhana seperti mengukus, kita sudah bisa menjaga kesehatan tubuh dan kualitas hidup.
NIYA/Devi
Editor : Imron Arlado