Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Makna dan Filosofi Upacara Ngaben sebagai Bentuk Penghormatan Terakhir di Pulau Bali

Imron Arlado • Selasa, 4 November 2025 | 04:01 WIB

 

Pulau Bali dikenal luas sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan tradisi dan ritual keagamaan yang sarat makna spiritual. sumber foto: pinterest
Pulau Bali dikenal luas sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan tradisi dan ritual keagamaan yang sarat makna spiritual. sumber foto: pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pulau Bali dikenal luas sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan tradisi dan ritual keagamaan yang sarat makna spiritual. 

Salah satu upacara paling sakral dan terkenal di antara masyarakat Hindu Bali adalah Upacara Ngaben, yaitu prosesi pembakaran jenazah yang melambangkan pelepasan roh menuju kehidupan baru. 

Upacara ini bukan sekadar peristiwa kematian, tetapi sebuah bentuk penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal dunia, serta simbol pelepasan jiwa dari ikatan duniawi menuju alam spiritual.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan sebuah perjalanan menuju penyatuan dengan Sang Pencipta. Jiwa manusia diyakini akan terus bereinkarnasi hingga mencapai kesucian tertinggi atau moksha. 

 

Baca Juga: Seni Menolak Tanpa Merasa Bersalah, Kunci Menjaga Keseimbangan Diri di Tengah Tuntutan Dunia

 

Oleh karena itu, Ngaben dilakukan sebagai sarana untuk mempercepat kembalinya roh kepada asalnya, membebaskannya dari keterikatan dunia materi. Upacara Ngaben memiliki tahapan yang sangat teratur dan penuh makna simbolik. 

Sebelum pelaksanaan, keluarga akan mengadakan berbagai persiapan, mulai dari membuat bade (menara jenazah) hingga lembu atau wadah pembakaran berbentuk hewan suci seperti lembu, singa, atau naga. 

Bentuk lembu ini melambangkan kendaraan roh menuju surga, sementara menara atau bade menggambarkan tangga spiritual menuju alam dewa.

Pada hari pelaksanaan, suasana upacara bukanlah muram seperti pemakaman pada umumnya, melainkan justru penuh semangat dan warna. 

Masyarakat Bali meyakini bahwa menangisi kematian berarti menghambat perjalanan roh, sehingga prosesi Ngaben dilakukan dengan musik gamelan, tarian, dan doa-doa suci yang mengiringi kepergian sang arwah.

Semua ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Bali yang melihat kematian sebagai peralihan, bukan kehilangan.

Makna mendalam dari Ngaben juga tercermin dalam filosofi “Tri Hita Karana” yaitu tiga sumber kebahagiaan hidup yang meliputi hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. 

Melalui Ngaben, manusia menunjukkan baktinya kepada Sang Hyang Widhi, menjaga harmoni sosial melalui gotong royong masyarakat, serta menghormati unsur alam dengan cara yang sakral dan penuh kesadaran spiritual.

Selain sebagai ritual keagamaan, Ngaben juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Keterlibatan keluarga besar dan masyarakat dalam proses persiapan menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan dan solidaritas di antara umat Hindu Bali. 

Dalam beberapa daerah, dilakukan pula Ngaben massal, yang memungkinkan beberapa keluarga melakukan upacara bersama untuk menghemat biaya sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Lebih dari sekadar tradisi, Ngaben merupakan cerminan filosofi hidup orang Bali yang percaya bahwa kehidupan dan kematian saling terhubung dalam siklus abadi. 

 

Baca Juga: Tumbuhkan Skill Komunikasi Siswa lewat Praktik Speaking

 

Upacara ini mengajarkan manusia untuk menerima kematian dengan lapang dada, serta memahami bahwa setiap jiwa memiliki tujuan spiritual yang lebih tinggi.

Dengan keindahan, simbolisme, dan nilai spiritual yang mendalam, Upacara Ngaben tidak hanya menjadi warisan budaya yang memikat wisatawan mancanegara, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia sejatinya adalah perjalanan menuju keseimbangan, kesucian, dan penyatuan dengan alam semesta. AILEEN/Devi

 

Editor : Imron Arlado
#musik gamelan #pulau bali #Sang Hyang Widhi #hindu bali #indonesia #tradisi #upacara ngaben