Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenal Lazy Eyes, Gangguan Penglihatan yang Sering Diabaikan

Imron Arlado • Selasa, 4 November 2025 | 04:01 WIB
Ketika berbicara tentang kesehatan mata, kebanyakan orang akan langsung teringat pada rabun jauh, rabun dekat, atau mata minus. Sumber Foto: Google
Ketika berbicara tentang kesehatan mata, kebanyakan orang akan langsung teringat pada rabun jauh, rabun dekat, atau mata minus. Sumber Foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ketika berbicara tentang kesehatan mata, kebanyakan orang akan langsung teringat pada rabun jauh, rabun dekat, atau mata minus.

Namun, ada satu kondisi lain yang tidak kalah penting untuk dikenali, yaitu lazy eyes atau dalam istilah medis disebut ambliopia.

Meski sering dianggap sepele, gangguan ini dapat berdampak besar pada kemampuan penglihatan seseorang jika tidak segera ditangani sejak dini.

Lazy eyes adalah kondisi ketika salah satu mata mengalami penurunan kemampuan melihat yang tidak dapat diperbaiki sepenuhnya hanya dengan kacamata atau lensa kontak.

Mata tersebut tampak malas karena otak lebih memilih menggunakan mata yang lebih kuat untuk melihat, sementara mata yang lemah jarang digunakan.  Akibatnya, penglihatan pada mata lemah tidak berkembang secara optimal.

 

Baca Juga: Seni Menolak Tanpa Merasa Bersalah, Kunci Menjaga Keseimbangan Diri di Tengah Tuntutan Dunia

 

Ambliopia biasanya mulai muncul sejak masa anak-anak, ketika otak dan mata masih dalam tahap perkembangan visual.

Jika tidak diatasi sebelum usia sekitar 7 sampai 9 tahun, kondisi ini bisa menjadi permanen karena otak sudah terbiasa mengabaikan input dari mata yang lebih lemah.

Ada beberapa penyebab umum terjadinya lazy eyes, antara lain:

  1. Mata Juling  (Strabismus)

Kondisi ini terjadi ketika kedua mata tidak sejajar dan mengarah ke arah yang berbeda. Untuk menghindari penglihatan ganda, otak “mematikan” sinyal dari salah satu mata, menyebabkan mata tersebut menjadi malas.

  1. Perbedaan kekuatan penglihatan antara dua mata (anisometropia)

Ketika satu mata memiliki rabun jauh atau rabun dekat yang jauh lebih berat dari mata lainnya, otak akan lebih sering menggunakan mata yang lebih jelas penglihatannya. Akibatnya, mata yang kabur menjadi tidak aktif.

  1. Hambatan pada penglihatan (deprivation amblyopia)

Kondisi seperti katarak kongenital atau kelopak mata terkulai (ptosis) dapat menghalangi cahaya masuk ke mata, membuat mata tersebut tidak berkembang secara normal.

Gejala lazy eyes seringkali sulit dikenali, terutama pada anak-anak. Namun, beberapa tanda berikut bisa menjadi petunjuk:

  1.       Anak sering memiringkan kepala atau menutup satu mata saat melihat.
  2.       Salah satu mata tampak juling atau tidak sejajar.
  3.       Kesulitan mengukur jarak atau menangkap benda dengan tepat.
  4.       Keluhan penglihatan kabur pada satu sisi.
  5.       Nilai penglihatan berbeda jauh antara dua mata saat pemeriksaan.

Karena gejalanya tidak selalu jelas, pemeriksaan mata secara rutin sejak usia dini sangat penting untuk mendeteksi gangguan ini lebih awal.

Jika lazy eyes dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya bisa serius. Anak yang mengalami ambliopia dapat tumbuh dengan penglihatan satu mata yang sangat lemah.

 

Baca Juga: Tumbuhkan Skill Komunikasi Siswa lewat Praktik Speaking

 

Sehingga beresiko kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, seperti membaca, olahraga, hingga mengemudi di masa dewasa.

Selain itu, kehilangan penglihatan pada mata yang sehat akibat cedera atau penyakit bisa menyebabkan kebutaan total.

Lazy eyes dapat diobati terutama jika terdeteksi sejak dini. Beberapa metode pengobatan yang umum dilakukan antara lain:

  1. Penggunaan kacamata atau lensa korektif

Untuk memperbaiki perbedaan penglihatan antara kedua mata.

  1. Terapi penutupan mata

Mata yang kuat ditutup selama beberapa jam setiap hari agar otak “dipaksa” menggunakan mata yang lemah, sehingga penglihatannya perlahan membaik.

  1. Obat tetes pengabur penglihatan

Digunakan untuk mengaburkan penglihatan mata yang lebih kuat, dengan tujuan serupa seperti terapi patch.

  1. Terapi visual

Latihan khusus yang membantu meningkatkan koordinasi dan kekuatan mata lemah, biasanya dilakukan di bawah pengawasan ahli mata.

Penanganan akan lebih efektif jika dilakukan sejak anak berusia di bawah 7 tahun, ketika sistem penglihatan masih bisa beradaptasi dengan baik.

Langkah terbaik untuk menghadapi lazy eyes adalah pencegahan melalui pemeriksaan rutin. Anak-anak sebaiknya diperiksa oleh dokter mata saat usia 6 bulan, 3 tahun, dan sebelum masuk sekolah dasar.

Orang tua juga perlu memperhatikan tanda-tanda kecil seperti anak sering menutup satu mata atau tampak kesulitan melihat benda dari jarak tertentu.

Selain itu, menjaga kesehatan mata dengan gaya hidup sehat seperti asupan nutrisi cukup, membatasi waktu layar.

Serta memberikan pencahayaan yang baik saat membaca juga berperan penting dalam menjaga fungsi penglihatan.

 

Baca Juga: Terapkan Pendekatan Deep Learning dan Tumbuhkan Karakter Siswa

 

Lazy eyes mungkin tampak seperti masalah ringan, tetapi dampaknya bisa bertahan seumur hidup jika diabaikan.

Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, penglihatan anak yang terkena ambliopia dapat kembali membaik dan berkembang normal.

NIYA/Devi

 

Editor : Imron Arlado
#Pemeriksaan Rutin #deteksi dini #mata malas #gejala #ambliopia #gangguan penglihatan #lazy eyes #metode pengobatan #kondisi mata