Setiap siswa bisa dilihat, dihargai, diperhatikan serta dihormati demi mencapai potensi terbaik mereka. Upaya ini setelah wanita kelahiran 7 Mei 1985 ini meneladani semboyan Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha yang bermakna guru harus bisa memberi teladan di depan.
Lalu, Ing Madya Mangun Karsa yang memiliki arti pendidik juga dituntut mampu membimbing dan membangun semangat saat berada di tengah-tengah siswa. Dan, Tut Wuri Handayani yang bermakna guru diharapkan mampu memberikan dorongan atau motivasi kepada siswa dari belakang agar potensinya dapat berkembang secara natural. ’’Dengan menerapkan semboyan itu, saya berusaha menjadi contoh yang baik, memberikan semangat dan motivasi belajar siswa, serta mendukung siswa tumbuh menjadi individu yang berkarakter, mandiri, dan berkualitas,’’ ujarnya.
Untuk mendukung cita-citanya, warga Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko ini aktif menciptakan perubahan di sekolah. Guru penggerak angkatan VIII Kabupaten Mojokerto ini kerap diganjar penghargaan. Salah satunya pemenang cerdas cermat guru dan menjadi finalis Cerdas Cermat Guru tingkat Nasional mewakili Mojokerto. ’’Kami juga aktif sharing dan diskusi antar pendidik di Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN),’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah