Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Asal Usul Halloween : Dari Ritual Kuno hingga Tradisi Modern

Imron Arlado • Sabtu, 1 November 2025 | 04:52 WIB
Halloween : dari ritual kuno sampai ke tradisi modern
Halloween : dari ritual kuno sampai ke tradisi modern

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Setiap tanggal 31 Oktober, banyak orang merayakan Halloween dengan mengenakan kostum seram, berburu permen, hingga menghias rumah dengan labu berwajah menyeramkan.

Namun, di balik perayaan itu, Halloween ternyata berakar dari ritual kuno bangsa Keltik bernama Samhain, yang menandai pergantian musim dan dipercaya sebagai waktu di mana dunia manusia dan arwah saling berdekatan.

Sekitar 2.000 tahun lalu, bangsa Keltik di Irlandia, Skotlandia, dan Inggris mengadakan festival Samhain. Pada malam 31 Oktober, mereka percaya bahwa batas antara dunia orang hidup dan dunia roh menjadi kabur, sehingga arwah dapat kembali ke bumi.

Hal tersebut menyebabkan Halloween penuh dengan simbol-simbol yang berhubungan dengan kematian, arwah, dan makhluk-makhluk supranatural seperti hantu, vampire, dan penyihir.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Halloween lebih dikenal sebagai festival yang menyenangkan dengan berbagai acara seperti parade kostum, pesta bertema, dan berbagai hiasan menyeramkan lainnya.

 

 

Selama berabad-abad, tradisi Halloween ini menyebar ke berbagai negara, terutama di Amerika Serikat melalui para imigran dari Irlandia dan Skotlandia. Di Amerika, Halloween mulai berubah menjadi perayaan yang lebih penuh keseruan.

Seiring waktu, tradisi ini berpadu dengan perayaan All Saint’s Day atau Hari Para Kudus yang ditetapkan oleh Gereja Katolik pada tanggal 1 November. Malam sebelumnya dikenal sebagai All Hallow’s Eve, yang kemudian disingkat menjadi Halloween.

Ketika imigran Eropa datang ke Amerika pada abad ke-19, mereka membawa kebiasaan tersebut dan menjadikannya bagian dari budaya populer. Namun, maknanya bergeser dari ritual spiritual menjadi momen hiburan dengan aktivitas seperti trick-or-treat, pesta kostum, hingga dekorasi labu atau jack-o’-latern.

Kini, Halloween bukan hanya dirayakan di negara Barat, tetapi juga populer di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Generasi muda menjadikannya ajang ekspresi kreatif, mulai dari cosplay, makeup karakter, hingga konten seru di media sosial.

Jika dahulu perayaan ini kental dengan kepercayaan spiritual dan unsur mistis, kini Halloween lebih banyak dimaknai sebagai simbol kreativitas, eskpresi diri, dan bentuk hiburan global.

Banyak orang yang tidak lagi menakuti roh jahat, melainkan merayakan immajinasi melalui kostum, dekorasi, dan cerita seram yang dikemas secara modern.

Generasi muda menjadikan Halloween sebagai momen untuk bersenang-senang, mengasah kreativitas, dan memperlihatkan sisi unik mereka melalui gaya berpakaian, makeup, hingga konten digital.

 

 

Namun, di balik suasana seru dan dekorasi labu yang ikonik, Halloween juga menginagtkan kita akan satu hal penting, tradisi dan budaya senantiasa berubah, beradaptasi dengan waktu dan tempat.

Dari ritual kuno bangsa Keltik hingga perayaan penuh warna di era modern, Halloween menjadi bukti bagaimana warisan masa lalu bisa tetap hidup, bertransformasi, dan relevan di tengah masyarakat global masa kini.

Natasia Reyna/Linda

Editor : Imron Arlado
#modern #kostum #keltik #halloween #Trick or Treat #31 oktober #samhain #ritual kuno