JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Jepang dikenal bukan hanya karena kemajuan teknologinya, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang terwujud dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kuliner.
Makanan tradisional Jepang atau washoku merupakan salah satu warisan budaya yang sangat dijaga hingga kini. Lebih dari sekadar hidangan, washoku mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jepang yang menghargai alam, kesederhanaan, dan keseimbangan.
Salah satu ciri khas makanan tradisional Jepang adalah penggunaan bahan-bahan alami yang segar, musiman, serta pengolahan yang sederhana. Orang Jepang percaya bahwa makanan terbaik adalah yang diolah dengan menghormati cita rasa aslinya.
Karena itu, teknik memasak seperti mengukus, memanggang, atau merebus lebih sering digunakan daripada menggoreng. Prinsip ini sejalan dengan filosofi wabi-sabi, yaitu keindahan dalam kesederhanaan dan ketidaksempurnaan.
Beberapa hidangan tradisional Jepang yang terkenal di dunia antara lain sushi, sashimi, tempura, miso soup, dan onigiri. Sushi misalnya, awalnya adalah cara tradisional untuk mengawetkan ikan dengan nasi yang difermentasi.
Kini, sushi menjadi simbol kuliner Jepang yang mendunia, tetap mempertahankan kesan elegan dan sederhana. Sementara itu, miso soup yang selalu hadir dalam menu harian mencerminkan keseimbangan antara rasa asin, gurih, dan lembut dan sebuah refleksi dari harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Para Pemenang Undian Utama Mlaku Bareng Gus Bupati dan Forkopimda
Tak hanya rasa, penyajian makanan juga memiliki makna penting dalam budaya Jepang. Setiap elemen, mulai dari bentuk mangkuk, warna makanan, hingga tata letak di piring, disusun dengan penuh perhatian agar menciptakan keseimbangan visual.
Prinsip ichiju-sansai, yaitu satu sup dan tiga lauk, menjadi standar penyajian makan tradisional Jepang yang menekankan keseimbangan gizi dan harmoni rasa.
Selain itu, makanan tradisional Jepang juga erat kaitannya dengan musim dan perayaan. Saat musim semi misalnya, masyarakat menikmati sakura mochi yaitu kue beras manis yang dibungkus daun sakura sebagai simbol datangnya kehidupan baru.
Pada musim dingin, oden, sup berisi berbagai bahan seperti lobak, telur, dan tahu, menjadi hidangan penghangat yang menyatukan keluarga di meja makan. Setiap musim membawa rasa, warna, dan makna tersendiri.
Filosofi di balik makanan Jepang juga menekankan rasa syukur. Ungkapan itadakimasu sebelum makan dan gochisousama deshita setelah makan bukan hanya sopan santun, tetapi bentuk penghormatan kepada alam, petani, dan orang yang telah menyiapkan makanan.
Melalui kebiasaan ini, masyarakat Jepang diajarkan untuk menghargai setiap butir nasi dan setiap bahan makanan yang mereka konsumsi. Dan kini, washoku telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak tahun 2013.
Baca Juga: 15 Ribu Warga Tumplek Blek Ikuti Mlaku Bareng Gus Bupati
Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kuliner Jepang bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang mencerminkan hubungan mendalam antara manusia dan alam, rasa dan makna, tradisi dan modernitas.
Pada akhirnya, mengenal makanan tradisional Jepang berarti memahami nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya dan kesederhanaan, keseimbangan, dan rasa hormat terhadap kehidupan.
Setiap gigitan washoku membawa kita lebih dekat pada filosofi hidup Jepang yang indah dan menenangkan: bahwa dalam kesederhanaan, terdapat makna yang begitu mendalam. AILEEN
Editor : Imron Arlado