JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Setiap musim semi tiba, Jepang seolah berubah menjadi negeri impian yang diselimuti warna merah muda lembut dari bunga sakura.
Momen ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan peristiwa budaya yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jepang selama berabad-abad. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Hanami, yang berarti melihat bunga.
Namun, Hanami tidak hanya tentang menikmati keindahan bunga sakura, melainkan juga merenungkan makna kehidupan yang singkat tetapi berharga.
Tradisi Hanami berawal lebih dari seribu tahun lalu pada masa Heian (794–1185), ketika para bangsawan di istana kekaisaran mengadakan pesta di bawah pohon sakura untuk menulis puisi dan menikmati makanan khas musim semi.
Seiring waktu, kebiasaan ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, hingga kini menjadi salah satu perayaan tahunan paling dinantikan di Jepang. Hanami tidak hanya dilakukan oleh orang Jepang, tetapi juga menarik jutaan wisatawan dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan sakura bermekaran.
Setiap tahun, taman-taman terkenal seperti Ueno Park di Tokyo, Maruyama Park di Kyoto, dan Osaka Castle Park dipenuhi warga yang membawa tikar dan bekal makanan.
Mereka berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan rekan kerja, menikmati udara segar sambil berbincang di bawah rimbunan sakura yang sedang mekar. Suasana kebersamaan inilah yang menjadikan Hanami begitu istimewa.
Di malam hari, perayaan ini dikenal sebagai Yozakura, yaitu menikmati keindahan bunga sakura yang diterangi cahaya lampu lentera, menciptakan suasana romantis dan menenangkan.
Baca Juga: Dini Hari, Staf TU SMP di Mojokerto Tewas Ditabrak Innova
Selain sebagai kegiatan rekreasi, Hanami mengandung nilai filosofi yang mendalam. Bunga sakura yang hanya mekar selama beberapa hari mencerminkan konsep “Mono no Aware”, yaitu kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara.
Keindahan yang singkat ini mengajarkan manusia untuk menghargai setiap momen dalam hidup sebelum ia berlalu. Filosofi ini melekat kuat dalam budaya Jepang, tercermin dalam seni, sastra, hingga cara pandang mereka terhadap kehidupan.
Selama perayaan Hanami, berbagai hidangan khas musim semi turut disajikan. Di antara yang paling populer adalah Hanami Bento, kotak makan berisi aneka lauk berwarna cerah seperti tempura, sushi, dan sayuran segar.
Ada pula sakura mochi, kue beras manis berwarna merah muda yang dibungkus daun sakura asin, serta dango, bola tepung beras warna pastel yang menjadi simbol kegembiraan. Minuman sake juga kerap disajikan, menambah kehangatan dan keceriaan suasana.
Menariknya, Jepang setiap tahun mengeluarkan ramalan mekar sakura atau sakura forecast yang memprediksi kapan bunga akan bermekaran di berbagai wilayah. Ramalan ini membantu masyarakat merencanakan waktu yang tepat untuk Hanami.
Di bagian selatan seperti Okinawa, sakura biasanya mekar lebih awal pada Februari, sedangkan di wilayah utara seperti Hokkaido baru bermekaran sekitar Mei.
Lebih dari sekadar perayaan, Hanami mencerminkan hubungan mendalam antara manusia dan alam. Ia menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, serta kesadaran akan keindahan yang fana.
Baca Juga: Hakim Tipikor Pertanyakan Lahan Kapal TBM Kota Mojokerto
Hanami bukan hanya tradisi budaya, melainkan cermin dari hati masyarakat Jepang yang menghargai kesederhanaan dan ketenangan.
Setiap kelopak sakura yang jatuh mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan, dan kebahagiaan sering kali ditemukan dalam momen-momen kecil yang kita jalani bersama orang terdekat.
Melalui Hanami, Jepang mengajarkan dunia tentang bagaimana keindahan, kefanaan, dan kehidupan dapat berpadu dalam harmoni yang lembut.
Tradisi ini bukan hanya pesta bunga, tetapi juga perayaan rasa syukur, cinta, dan refleksi diri yang abadi di bawah langit musim semi yang bermekaran. AILEEN/Linda
Editor : Imron Arlado