JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sejarah baru yang mengukir sistem pemerintahan Jepang, Ketua Demokrat Liberal (LDP) Jepang, Sanae Takaichi, resmi naik menjadi perdana menteri Jepang pada Selasa, 21 Oktober 2025 lalu.
Hal ini menjadikan Sanae perdana menteri perempuan pertama di sistem pemerintahan Jepang, seperti yang dilaporkan AP News. Politisi berusia 64 tahun itu berhasil memenangkan pemungutan suara majelis rendah dengan 237 suara.
Tetapi, sebelum resmi menjabat ia masih harus menjalani prosesi pelantikan oleh Kaisar Naruhito untuk menggantikan Perdana Menteri Shigeru Ishiba yang mundur dari jabatannya pada bulan September lalu.
Sanae lahir pada tanggal 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Ayahnya seorang pekerja buruh, sedangkan ibunya merupakan seorang polisi.
Ia menempuh pendidikan di Nara Perfectual Unebi High School. Meskipun ia berhasil diterima di universitas ternama di Tokyo, kedua orang tuanya tidak mengizinkan kuliah karena ia merupakan seorang perempuan.
Ia pun harus berjuang sendiri untuk menanggung biaya kuliahnya demi menempuh pendidikan yang tinggi, yakni di jurusan Matematika Bisnis, Fakultas Administrasi Bisnis di Universitas Kobe, Hyogo.
Meskipun wanita, Sanae memiliki kepribadian yang menyukai musik, terutama musik heavy metal. Dilansir dari CNN Indonesia, Sanae pernah menjadi seorang pemain drum heavy metal sewaktu ia masih muda.
Selain itu, ia memiliki hobi menyelam dan menyetir mobil hingga sekarang ia diketahui telah memiliki beberapa koleksi mobil.
Sebelum terjun di dunia politik, Sanae berkecimpung di dunia media. Inspirasi politiknya muncul sekitar rahun 1980-an, di tengah ketegangan perdagangan antara AS dan Jepang.
Sanae memasuki parlemen pada tahun 1993, bergabung dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) pada tahun 1996. Sebagai sekutu eks perdana menteri Shinzo Abe, ia juga pernah menjabat posisi menteri di bawah pemerintahannya.
Ia diangkat sebagai ketua partai LDP pada tanggal 4 Oktober lalu, yakni partai yang tengah berkuasa selama beberapa dekade terakhir.
Mengutip dari sumber, beberapa hari kemudian Partai Komeito keluar dari koalisi mereka akbiat ketidaknyamanan dengan sudut pandang Sanae yang konservatif dan skandal dana gelap LDP.
Atas hal itu, Sanae terpaksa membentuk aliansi dengan Partai Inovasi Jepang (JIP) yang berhaluan kanan dan reformis.
Sebagai Perdana Menteri perempuan pertama, ia menjadi simbol kemajuan dan tantangan baru dalam kesetaraan gender di politik Jepang, sambal tetap mempertahankan ideology konservatif yang menjadi ciri khas LDP.
Natasia Reyna/FADYA
Editor : Imron Arlado