JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Licorice candy atau permen akar manis, terutama varian hitam dan varian asin Skandinavia, saat ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Permen ini mendapat cukup banyak perhatian netizen karena munculnya para konten kreator yang membagikan konten "taste test" dan reaksi emosional yang menunjukkan ekspresi suka atau benci, sehingga mudah memicu perhatian.
Tak hanya itu, para konten kreator juga kerap kali membagikan konten video yang berisi perbandingan rasa dan estetika visual licorice candy dari berbagai negara yang kemudian sukses menarik algoritma platform.
Licorice candy sendiri merupakan sebuah permen beraroma yang berasal dari ekstrak akar tanaman bernama Glycyrrhiza glabra atau akar manis.
Bahan dasar tradisional permen ini meliputi ekstrak akar manis licorice, gula atau sirup, pati, dan tambahan pewarna atau perasa sesuai resep tiap pabrik.
Rasa khas dari licorice candy cenderung manis herbal dengan sensasi rasa pahit atau medis yang sangat unik. Pada beberapa varian rasa licorice candy, aroma dari padas manis juga kerap kali digunakan untuk meniru atau memperkuat profil rasa.
Selain digunakan sebagai permen di masa kini, dahulu penggunaan akar licorice sebagai obat dan pemanis telah tercatat sejak peradaban kuno seperti Mesopotamia, Mesir, China, dan India.
Baca Juga: Hari Santri Nasional 2025, Gus Bupati: Santri Harus Berinovasi dengan Teknologi
Hal tersebut terbukti dalam bukti arkeologis dan catatan obat tradisional yang menunjukkan bahwa akar ini sejak dahulu telah digunakan sebagai obat pereda batuk, radang tenggorokan, dan masalah pencernaan.
Sehingga transformasinya saat ini menjadi permen merupakan pergeseran fungsi dari obat tradisional ke makanan atau camilan yang dapat dikonsumsi sehari-hari namun tetap dalam batas wajar.
Selama berabad-abad, licorice candy menyebar ke Eropa dan terus berkembang menjadi variasi lokal. Bahkan di beberapa negara Eropa Utara, licorice telah menjadi bagian dari budaya kuliner nasional.
Licorice candy juga memiliki beberapa varian utama, yakni black licorice yang merupakan varian rasa paling klasik dan paling sering mengandung ekstrak akar licorice dengan cita rasa herbal, manis, dan aroma kuat.
Kemudian ada juga red licorice yang umumnya berbahan dasar dari buah-buahan seperti stroberi atau ceri dan tidak mengandung ekstrak akar licorice.
Varian ini diberi nama red licorice karena memiliki bentuk dan tekstur yang mirip dengan licorice candy.
Tak berhenti di situ, varian licorice candy yang ketiga adalah salted atau salmiakki licorice, varian khas Nordik yang mengandung ammonium chloride sehingga menghasilkan rasa asin yang kuat.
Salty licorice ini juga memiliki cukup banyak penikmat, terutama di Finlandia, Swedia, Belanda, dan Jerman. Tetapi banyak juga yang merasa tak tahan dengan rasanya.
Meski akar licorice memiliki beberapa manfaat bagi tubuh seperti sebagai obat pereda batuk dan masalah pencernaan, mengonsumsi terlalu banyak black licorice juga dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius bagi tubuh.
Baca Juga: Berkat Aktifkan Pos Siskamling, Desa Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi Raih Juara 2 Lomba Satlinmas
Contohnya seperti hipertensi, hipokalemia, dan memiliki resiko cukup tinggi pada gangguan irama jantung.
Maka dari itu, hindari konsumsi black licorice secara berlebihan dan konsultasi ke dokter apabila terjadi kejanggalan pada kondisi jantung atau tekanan darah setelah mengonsumsi black licorice.
Licorice candy juga kerap kali memunculkan reaksi "Love it or Hate it" yang artinya "Mencintainya atau Membencinya" karena rasa khas licorice yang tidak biasa, yakni sensasi rasa herbal dan medis, serta cenderung berbeda dari permen lainnya.
Kehadiran licorice candy menjadi contoh makanan yang memadukan antara sejarah panjang obat tradisional dengan budaya di era modern yang kerap kali mengubah bentuk ramuan menjadi permen yang ramah bagi lidah, mudah dikonsumsi, dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
FANEZA/Linda
Editor : Imron Arlado