Upacara diawali dengan suguhan Whirling Darwis, atau tari sufi yang dibawakan oleh santriwan santriwati dari pondok pesantren Roudlotul Qurro' Wal Munsyidin Kecamatan Bangsal. Lalu disusul dengan penampilan marching band dari siswa siswi SMK 1 Jetis.
Acara berlangsung meriah berubah menjadi sunyi saat Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Abdul Muchid membacakan naskah resolusi jihad. Dalam catatan sejarah, resolusi jihad merupakan naskah yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari yang berisikan fatwa atau seruan bagi umat islam Indonesia untuk berjuang dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.
Gus Barra sapaan akrab Bupati Mojokerto mengatakan, santri tidak hanya menjadi penyaksi perubahan zaman, santri harus menjadi bagian dari perubahan dan penggerak peradaban menuju kemajuan. "Sebagai santri, dituntut tidak hanya bisa menguasai kitab kuning, tetapi lebih dari itu santri harus berinovasi dengan teknologi seiring dengan kemajuan zaman," terangnya.
Kemeriahan Hari Santri Nasional tahun ini tak hanya terlihat di halaman kantor pemkab saja. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, ratusan santri juga melaksanakan upacara serupa berbagai tempat.
Ratusan santri dari Ponpes Al Amin Sooko melakukan pawai budaya dengan mengusung tumpeng jajanan dan kostum etnik. Mereka berkeliling dari Ponpes Al Amin Jl. RA. Basuni ke sekitar pemukiman setempat. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah