JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Bagi banyak orang, munculnya bintik putih kecil di wajah sering dianggap sebagai komedo atau jerawat yang membandel.
Namun, tidak semua bintik putih adalah jerawat. Salah satu penyebab umum munculnya bintik-bintik kecil tersebut adalah milia.
Suatu kondisi kulit yang sering disalah artikan tetapi sebenarnya berbeda dengan masalah jerawat biasa.
Milia adalah kumpulan kista kecil berisi keratin protein yang juga terdapat pada rambut, kuku, dan lapisan kulit terluar.
Bentuknya kecil, berwarna putih atau kekuningan, biasanya berukuran 1–2 milimeter. Milia muncul di bawah permukaan kulit, terutama di area wajah seperti sekitar mata, hidung, pipi, dan dagu.
Berbeda dengan jerawat atau komedo, milia tidak disebabkan oleh penyumbatan minyak (sebum) atau bakteri.
Karena itu, milia tidak terasa nyeri, tidak meradang, tidak menular serta tidak dapat dipencet layaknya jerawat.
Milia bisa muncul karena berbagai faktor, tergantung usia dan kondisi kulit seseorang. Secara umum, penyebabnya antara lain:
- Penumpukan sel kulit mati
Saat sel-sel kulit mati terperangkap di bawah permukaan kulit, keratin bisa menumpuk dan membentuk milia.
- Kerusakan kulit akibat sinar matahari
Paparan sinar UV berlebihan dapat menebalkan lapisan kulit, membuat sel kulit sulit terkelupas secara alami.
- Penggunaan produk kulit berat
Krim atau pelembab yang terlalu tebal bisa menyumbat pori-pori dan menghambat regenerasi kulit.
- Proses penyembuhan luka atau iritasi kulit
Milia kadang muncul di area bekas luka, setelah luka bakar ringan, atau setelah prosedur seperti dermabrasi.
- Faktor usia
Bayi baru lahir sering memiliki milia karena kulit mereka belum berfungsi sepenuhnya untuk mengelupas sel kulit mati secara alami.
Milia terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya yaitu:
- Milia primer: Jenis yang paling umum, muncul tanpa penyebab yang jelas akibat penumpukan keratin di kulit.
- Milia sekunder : Timbul setelah adanya kerusakan kulit, misalnya akibat luka bakar, ruam, atau penggunaan krim berat.
- Milia neonatal: Umum terjadi pada bayi baru lahir dan biasanya menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.
- Milia akibat penuaan: Muncul seiring bertambahnya usia karena regenerasi kulit yang melambat.
Secara medis, milia tidak berbahaya dan tidak menular. Namun, banyak orang merasa terganggu karena mengganggu penampilan wajah, terutama jika muncul di sekitar mata atau pipi.
Baca Juga: Trowulan Mojokerto Dilanda Angin Kencang, Enam Rumah Rusak, Tiga Pohon Tumbang
Meski tampak sepele, memencet milia tidak disarankan karena bisa menyebabkan iritasi, peradangan, atau bahkan bekas luka yang sulit hilang.
Menghilangkan milia bisa dilakukan dengan cara alami maupun melalui bantuan dokter kulit. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu:
- Melakukan eksfoliasi rutin
Gunakan scrub lembut atau produk yang mengandung AHA/BHA untuk membantu mengangkat sel kulit mati.
- Menggunakan produk dengan retinol atau asam salisilat
Kandungan ini membantu mempercepat regenerasi kulit dan mencegah penumpukan keratin.
- Menghindari produk berat di wajah
Gunakan pelembap non-komedogenik agar pori-pori tidak tersumbat.
- Konsultasi dengan dokter kulit
Jika milia tidak kunjung hilang, dokter dapat melakukan prosedur seperti ekstraksi profesional, mikrodermabrasi, atau laser ringan untuk mengangkat milia dengan aman.
- Menggunakan tabir surya setiap hari
Melindungi kulit dari sinar matahari membantu mencegah kerusakan kulit yang dapat memicu milia.
Jika milia tidak hilang dalam waktu lama, terasa gatal, atau jumlahnya semakin banyak, sebaiknya konsultasikan ke dokter kulit.
Penanganan yang salah seperti mencoba memencet milia sendiri justru dapat memperburuk kondisi kulit.
Milia memang tampak seperti komedo atau jerawat putih, tetapi penyebab dan penanganannya berbeda. Kondisi ini tidak berbahaya, namun bisa mengganggu kepercayaan diri.
Dengan perawatan kulit yang tepat dan kebiasaan menjaga kebersihan wajah, milia dapat dicegah dan diatasi tanpa perlu tindakan berisiko.
NIYA/FADYA
Editor : Imron Arlado