JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam agama Hindu, terdapat salah satu perayaan keagamaan terbesar yang biasanya disebut Diwali atau Deepavali.
Perayaan diwali ini juga kerap kali disebut sebagai festival cahaya atau festival of lights karena secara singkat, diwali merealisasikan gagasan," terang mengalahkan gelap, kebaikan mengalahkan kejahatan, dan harapan untuk awal yang baru".
Tahun ini, perayaan diwali jatuh pada tanggal 20 Oktober 2025, bertepatan dengan bulan baru dalam kalender Hindu yang menandai pergantian musim sekaligus awal tahun baru bagi sebagian komunitas Hindu.
Secara harfiah, kata deepavali berasal dari bahasa sansekerta, yakni deepa berarti lampu dan avali berarti barisan, yang jika digabungkan memiliki arti deretan cahaya.
Karena itu, diwali atau deepavali dikenal luas sebagai festival of lights dan perayaan cahaya. Lampu-lampu minyak, lilin, dan lentera akan menyala terang di perayaan diwali sebagai lambang kemenangan terang atas gelap, pengetahuan atas kebodohan, serta kebaikan atas kejahatan.
Secara lebih dalam, diwali juga seringkali dipahami sebagai momen menyucikan diri dari dan lingkungan.
Menyingkirkan aura kegelapan dalam arti negatif seperti keserakahan, kebencian, sekaligus rasa takut, dan menggantinya dengan terangnya cahaya berupa kasih sayang, keberanian, dan kebaikan.
Baca Juga: Melihat Cara Cafe Lawu 33 Kota Mojokerto Berdayakan Kaum Difabel
Salah satu hal yang menarik dari diwali ini adalah perayaannya yang berbeda-beda di setiap belahan dunia.
Meski maknanya sama yaitu menyalakan cahaya sebagai simbol dari kemenangan dan kebaikan, di setiap daerah memiliki warna khasnya masing-masing.
Di India, perayaan diwali bukanlah sekedar hari raya keagamaan, tetapi juga momen sosial terbesar selama satu tahun sekali.
Saat hari raya diwali datang, jalanan di India akan dipenuhi dengan lampu dan kembang api, pasar-pasar ramai dengan penjual bunga marigold, dupa, serta manisan tradisional yang siap dibagikan kepada keluarga dan tetangga.
Di rumah-rumah, orang-orang akan menyalakan lampu minyak kecil yang diletakkan di ambang jendela atau halaman sebagai simbol pengusiran kegelapan.
Tiap keluarga umumnya akan membersihkan dan menghias rumah dengan membuat pola warna-warni dari tepung dan bunga rangoli.
Kemudian saat malam tiba, mereka akan melakukan doa pemujaan untuk Dewi Laksmi, dewi kemakmuran, dan Dewa Ganesha, simbol kebijaksanaan.
Selain itu, perayaan diwali juga diisi oleh berbagai kegiatan menyenangkan lainnya seperti berbagi manisan, bertukar hadiah, mengenakan pakaian baru, dan mengunjungi keluarga besar.
Walaupun di Indonesia perayaan diwali tidak termasuk dalam hari besar nasional, perayaan ini tetap hidup di beberapa komunitas, terutama komunitas Hindu keturunan India dan sebagian umat Hindu di Bali, Medan, dan Jakarta.
Di bali, perayaan diwali dikenal sebagai momen penghormatan terhadap cahaya spiritual dan biasanya dirayakan dengan melakukan doa sederhana, penerangan lampu, serta refleksi diri.
Sementara di Medan dan Jakarta, komunitas India Tamil dan Punjabi umumnya merayakan diwali dengan melakukan pemujaan bersama di kuil, menyalakan lilin dan lampu, serta berbagi makanan manis khas India Selatan seperti ladu atau murukku.
Perayaan diwali lebih dari sekedar perayaan keagamaan, perayaan ini menyimpan nilai-nilai yang bisa diterima oleh siapa saja, apapun latar belakangnya.
Inti dari perayaan ini berfokus pada upaya menemukan kembali cahaya di tengah kegelapan, sesuatu yang terasa sangat relevan dalam kehidupan modern yang sering dipenuhi tekanan, tuntutan, dan kekhawatiran.
Diwali juga mengajarkan pentingnya membersihkan diri, tak hanya dalam artian fisik, tetapi juga secara batin.
Saat seseorang membersihkan dan menghias rumah mereka menjelang perayaan diwali, hal tersebut sebetulnya sama dengan upaya membersihkan hati dari perasaan negatif seperti rasa iri, amarah, dan keserakahan.
Sementara lampu yang dinyalakan pada malam diwali bukan sekedar dekorasi, tetapi simbol pencerahan, harapan, dan energi positif yang diharapkan bisa tiap langkah kehidupan di tahun mendatang.
Selain itu, perayaan diwali juga menonjolkan nilai kebersamaan dan empati. Kegiatan atau tradisi berbagi makanan manis dan bertukar hadiah menggambarkan semangat tiap orang untuk saling peduli.
Perayaan diwali bukan sekedar festival menyalakan cahaya atau kembang api, ia mengingatkan bahwa setiap orang mampu menyalakan 'cahaya' baik itu melalui kebaikan kecil, pendamaian, berbagi, atau usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
FANEZA
Editor : Imron Arlado