JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ada kalanya seseorang akan merasakan kekosongan batin di beberapa momen yang mereka jalani, seperti saat menerima kabar duka yang mendebarkan, tetapi batinnya tak merasakan sensasi apapun.
Kondisi tersebut bukan berarti perasaan sepenuhnya hilang, melainkan ada sesuatu di dalam diri yang menutup katup emosional.
Kondisi seperti itu kerap kali muncul setelah seseorang mengalami periode emosi yang sangat intens atau kelelahan berkepanjangan.
Karena setelah berhasil melalui masa emosional yang intens, otak dan tubuh akan mengambil jalan pintas dengan meredam semua gelombang perasaan agar tidak kewalahan.
Kondisi ini seringkali disebut sebagai Emotional Numbness, di mana intensitas emosi menurun secara drastis dan signifikan.
Orang-orang yang mengalami kondisi seperti ini bukan berarti mereka adalah individu yang tak berperasaan, melainkan mereka tengah mengalami fase tumpul dan terblokirnya kemampuan untuk merasakan emosi.
Penyebab terjadinya kondisi ini adalah karena otak yang biasanya memproses rangsangan emosional dan memunculkan reaksi memilih untuk menahan segala respons itu.
Fungsi biologis dan psikologis terjadinya emotional numbness juga saling berkaitan, yakni saat sedang stres atau trauma berat, sistem saraf otonom yang mengatur respons emosi akan secara otomatis memasang "sakelar pengaman" agar tiap individu tetap bisa bertahan tanpa terjebak dalam lonjakan emosi.
Baca Juga: Desa Ngoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto Berdayakan Ekonomi Warga, Bakal Bangun Bank Sampah
Sakelar pengaman tersebutlah yang kemudian menjadikan kemampuan seseorang untuk merasakan emosi menjadi tumpul dan terblokir.
Ada beberapa faktor pendorong utama yang memicu terjadinya kondisi ini, yang pertama adalah mekanisme pertahanan psikologis.
Mekanisme pertahanan ini berlangsung secara sementara dan otomatis dilakukan oleh otak yang menekan perasaan agar pemiliknya tidak hancur setelah mengalami kesakitan emosional yang intens.
Paparan stres kronis atau burnout emosional yang datang dari tuntutan atau tekanan lingkungan pekerjaan, sekolah, dan peran keluarga yang tidak diberi jeda juga akan menguras intensitas emosional, karena ketika energi emosional habis, respon emosional pun padam.
Selain itu, gangguan mood dan trauma yang menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, PTSD, dan gangguan kecemasan juga dapat memperpanjang durasi kondisi emotional numbness atau mati rasa.
Secara neurologis, perubahan di area otak yang mengatur emosi seperti amigdala dan korteks prefrontal juga ikut berperan.
Baca Juga: Gebyar Mewarnai Pelajar SD Piala Ning Hana
Tak hanya itu, kebiasaan sepele seperti kurang tidur, mengonsumsi makanan dengan nutrisi buruk, dan obat-obatan tertentu juga menjadi faktor fisiologis yang bisa memengaruhi kemampuan merasakan.
Gejala atau tanda-tanda munculnya kondisi ini yang relatif konsisten dan mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari adalah respon emosional yang tumpul dan kehilangan kemampuan menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.
Tak hanya itu, sulit merasakan atau menanggapi perasaan orang lain, rasa hampa dalam batin, menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak memiliki energi untuk merasakan, dan kesulitan membuat keputusan emosional juga menjadi gejala terjadinya emotional numbness.
Meski kondisi emotional numbness ini merupakan sebuah masalah internal, tetapi efek samping mati rasa secara emosional bisa meluas hingga ke relasi, pekerjaan, dan identitas diri.
Mati rasa secara emosional bisa memicu renggangnya hubungan dengan teman, keluarga, dan pacar karena kurangnya respon emosional yang kemudian menimbulkan salah paham.
Penurunan motivasi, produktivitas, dan pencapaian dalam kehidupan sehari-hari juga bisa timbul akibat emotional numbness.
Selain itu, emotional numbness juga dapat menyebabkan seseorang merasa asing dengan dirinya sendiri yang kemudian menimbulkan kebingungan identitas.
Baca Juga: Duo Kajari di Mojokerto Diganjar Promosi
Cara memahami sekaligus menghadapi kondisi mati rasa secara emosional ini dapat dilakukan dengan cara menerima keadaan bahwa sedang mengalami fase mati rasa dan melakukan ritual kecil untuk membuka kembali perasaan.
Ritual kecil tersebut dapat dilakukan dengan menonton film, membaca puisi, mendengarkan musik, menulis jurnal, menggambar, dan yoga untuk memberi jalan pada emosi tanpa harus menyampaikannya dengan kata-kata.
Namun, jika kondisi mati rasa tetap menetap dalam jangka panjang dan mengganggu fungsi hidup, bantuan profesional seperti psikoterapi atau konseling harus dilakukan untuk membantu mengurai akar dan memberi strategi pengelolaan.
Kondisi emotional numbness atau mati rasa secara emosional bukanlah akhir dari kapasitas merasakan seseorang, ia adalah jeda yang dipilih oleh tubuh dan otak ketika kapasitas tersebut hampir runtuh.
Mengakui kelelahan dan kesakitan, memberi ruang bagi diri sendiri, dan mencari dukungan menjadi langkah-langkah kecil yang nyata pengaruhnya untuk pulih.
Dalam kesunyian batin itu, akan selalu ada peluang untuk kembali merasakan seperti sedia kala, sedikit demi sedikit.
FANEZA/Wulandari
Editor : Imron Arlado